Setelah beberapa pekan lalu mempertimbangkan jeda dalam kampanye pelonggarannya, pengumuman bulan ini oleh Presiden Donald Trump mengenai tarif besar-besaran pada para mitra dagang AS mengarahkan dukungan agar ECB kembali memangkas bunga acuan lebih lanjut.
Prospek langkah lain menjadi lebih menarik bagi para pembuat kebijakan karena inflasi terus turun menuju target 2% ECB, dan didukung oleh penurunan biaya energi dan penurunan indikator keyakinan. Sementara itu, pergerakan mengejutkan pada euro mengangkat mata uang bersama ini ke level tertinggi tiga tahun terhadap dolar.
Para investor memperkirakan dua atau tiga kali lagi pengurangan biaya pinjaman sebelum tahun ini berakhir. Namun, di tengah kondisi geopolitik yang tak menentu, Gubernur ECB Christine Lagarde sepertinya tidak akan memberi sinyal yang jelas saat ia berbicara kepada para wartawan pada pukul 14.45 siang di Frankfurt.
Dengan inflasi yang sudah di titik terendah, kekhawatiran saat ini adalah pungutan AS akan memadamkan harapan untuk kebangkitan ekonomi 20 negara anggota zona euro—yang berpotensi menyeret pertumbuhan harga konsumen ke bawah target.
Meski Trump menarik beberapa kebijakannya, produk-produk Uni Eropa tetap menghadapi tarif 10% selama 90 hari, tanpa ada indikasi pasti tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Sementara itu, perselisihannya dengan China makin memanas—meningkatkan risiko beberapa barangnya dialihkan ke Eropa dengan harga diskon.
Federal Reserve atau The Fed terjebak dalam situasi yang rumit dan mungkin terpaksa tetap diam sampai ada kejelasan yang lebih rinci. Gubernur Jerome Powell memperingatkan bahwa ekonomi yang melemah dan inflasi yang tinggi bisa membawa target stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum ke dalam konflik.
Sebaliknya, data kawasan euro untuk Maret mengonfirmasi pernyataan yang sering disampaikan para pejabat ECB bahwa disinflasi sedang berjalan sesuai rencana. Harga-harga naik hanya 2,2% dari tahun lalu, sedangkan komponen jasa yang diawasi ketat turun menjadi 3,5% dari 3,7% karena tekanan upah berkurang.
Para ekonom yang disurvei Bloomberg sebelum keputusan hari ini memprediksi pemotongan biaya pinjaman lagi pada pertemuan kebijakan ECB selanjutnya pada Juni, setelahnya biaya pinjaman akan dipertahankan pada 2% setidaknya hingga akhir tahun depan.
Namun, latar belakang yang tidak stabil membuat Goldman Sachs, Deutsche Bank, dan Bank of America memperkirakan pemotongan bunga acuan yang lebih dalam.
Sebagian besar pembuat kebijakan bersikap hati-hati mengenai prospek suku bunga. Selain kekacauan perdagangan, mereka masih mencoba mengukur dampak dari belanja infrastruktur besar-besaran di Jerman dan belanja militer yang lebih besar di seluruh benua pada tahun-tahun mendatang.
(bbn)
































