Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meredam kekhawatiran pasar terkait aksi jual obligasi yang terjadi baru-baru ini. Ia menolak spekulasi bahwa negara-negara asing menjual surat utang AS secara besar-besaran, dan menegaskan bahwa departemennya memiliki instrumen untuk mengatasi disrupsi pasar jika diperlukan.

“Saya tidak melihat ada aksi jual besar-besaran oleh investor asing,” ujar Bessent dalam wawancara dengan Bloomberg Television saat berada di Buenos Aires, Argentina. Ia merujuk pada meningkatnya permintaan asing dalam lelang obligasi bertenor 10 dan 30 tahun pada pekan lalu.

Investor masih kesulitan memproyeksikan dampak ekonomi dari perang dagang ini, mengingat dinamika negosiasi yang terus berubah. Meskipun para pejabat AS menegaskan bahwa strategi tarif disusun secara hati-hati, para kritikus menilai kebijakan tersebut terlalu bergantung pada keputusan transaksional Trump.

“Memasuki pekan ini, para trader akan terus memantau linimasa media sosial dan saluran berita untuk mengikuti episode terbaru dari drama ‘tarif-diberlakukan, tarif-dicabut’ ini,” ujar Jay Woods dari Freedom Capital Markets. “Satu hal yang berhasil dilakukan pemerintahan saat ini adalah membuat para pelaku pasar tetap waspada.”

Ahli strategi di divisi riset BlackRock Inc mengatakan bahwa mereka meningkatkan toleransi risiko dengan memperbesar eksposur ke saham AS dan Jepang, menyusul keputusan pemerintahan Trump yang menunda pengenaan tarif terhadap sejumlah mitra dagang utama. Namun, mereka tetap menghindari obligasi jangka panjang AS.

“Risiko terjadinya kecelakaan finansial dalam jangka pendek kini menurun,” tulis para analis dari BlackRock Investment Institute, termasuk Jean Boivin dan Wei Li. “Adanya kendali terhadap kebijakan memungkinkan kami memperluas cakrawala taktis ke 6 hingga 12 bulan ke depan, dan kembali optimistis terhadap saham AS dan Jepang.”

Pergerakan S&P 500. (Sumber: Bloomberg)

Namun di sisi lain, analis dari Citigroup Inc yang dipimpin oleh Beata Manthey justru menurunkan pandangan mereka terhadap saham AS. Mereka menilai alasan untuk melakukan diversifikasi dari aset ini semakin kuat, mengingat dampak perang dagang terhadap pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.

“Meski yang terburuk mungkin sudah berlalu, situasi belum sepenuhnya aman,” kata Michael Wilson dari Morgan Stanley. “Penangguhan tarif selama 90 hari dan konsesi tambahan pada akhir pekan memang menurunkan risiko resesi jangka pendek, tapi ketidakpastian tetap tinggi, The Fed masih menahan diri, dan tingkat bunga jangka panjang menjadi hambatan.”

Terlepas dari gejolak dan ketidakpastian tersebut, sebagian besar analis pasar saham tetap memperkirakan S&P 500 akan menguat sepanjang sisa tahun 2025.

Meski sempat menunjukkan performa kuat pekan lalu, indeks S&P 500 masih tercatat melemah sepanjang tahun ini akibat kebijakan Trump yang memberlakukan tarif besar terhadap produk impor dari China, Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan sejumlah mitra dagang lainnya. Pada Selasa lalu, indeks ini tercatat turun 15% sejak awal tahun, sebelum kembali menguat pada Kamis usai Trump mengumumkan penundaan tarif selama 90 hari.

Penurunan 15% ini terbilang signifikan secara historis. Berdasarkan data Carson Group LLC yang dihimpun Ryan Detrick, sejak tahun 1957, S&P 500 tercatat mengalami penurunan serupa hingga pertengahan April sebanyak 16 kali. Namun hanya tiga kali indeks berhasil pulih dan ditutup positif pada akhir tahun, yaitu pada 2020, 2009, dan 1982 — yang semuanya ditandai dengan intervensi dari bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk menyelamatkan ekonomi AS.

“Pergerakan pasar minggu lalu sangat tajam hingga bisa jadi kita mendekati titik kapitulasi,” ujar Callie Cox dari Ritholtz Wealth Management. “Saat ekspektasi berada pada titik terendah, kabar positif sekecil apa pun bisa membawa kelegaan besar. Ketakutan itu baik, dan ketika rasa takut melimpah, bisa jadi kita lebih dekat ke dasar pasar daripada ke puncaknya. Tapi apakah itu berlaku sekarang?”

Cox mengatakan bahwa melihat kondisi saat ini, masih ada kemungkinan penurunan lanjutan.

Dari sektor korporasi, Goldman Sachs Group Inc. menjadi perusahaan terbaru yang melaporkan kinerja kuartalan tertinggi dalam bisnis perdagangan saham, mengikuti jejak JPMorgan Chase & Co dan Morgan Stanley yang mencetak rekor serupa pekan lalu.

Gejolak pasar yang intens memang menciptakan peluang keuntungan, namun juga membawa risiko kerugian yang lebih tinggi. Dalam istilah pasar, periode ketika investor memanfaatkan volatilitas disebut sebagai “volatilitas yang baik”, sementara jika volatilitas tidak dimanfaatkan — berisiko mengurangi likuiditas — maka disebut sebagai “volatilitas yang buruk.”

Apple mencatat lonjakan pengiriman unit iPhone sebesar 10% pada kuartal pertama tahun ini, menurut IDC. Sementara itu, Mark Zuckerberg hadir sebagai saksi pertama dalam persidangan antimonopoli yang diajukan Komisi Perdagangan Federal AS untuk membubarkan Meta Platforms Inc. Nvidia Corp berencana memproduksi perangkat AI senilai hingga US$500 miliar di AS, sementara Intel Corp sepakat menjual 51% saham unit cip programmable mereka, Altera.

Pasar obligasi AS kemungkinan telah menyentuh titik terendah untuk saat ini, didorong oleh meningkatnya permintaan asing dan ekspektasi bahwa The Fed akan mendukung surat utang pemerintah bila diperlukan, menurut JPMorgan Asset Management.

“Saya cukup yakin bahwa kita sudah berada di level harga terendah dan imbal hasil tertinggi saat ini,” ujar Bob Michele, Kepala Divisi Pendapatan Tetap Global JPMorgan kepada Bloomberg Television. “Dari percakapan kami dengan investor asing, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda keluar dari pasar obligasi AS.”

Michele merujuk pada data The Fed yang menunjukkan bahwa bank sentral dan pengelola cadangan devisa asing baru-baru ini justru meningkatkan kepemilikan mereka atas obligasi AS.

Para pembuat kebijakan kini tengah memantau berbagai indikator untuk menilai apakah tarif besar-besaran dari Trump akan memicu inflasi jangka panjang. Meski banyak ekonom memprediksi bahwa tarif dapat mendorong inflasi — setidaknya dalam jangka pendek — hingga kini ancaman tarif belum mengubah pandangan jangka panjang konsumen.

Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller memaparkan dua skenario dampak kebijakan tarif terhadap ekonomi AS, namun menilai bahwa efek inflasinya kemungkinan bersifat sementara.

Ia menyebut kebijakan tarif baru ini sebagai “salah satu guncangan terbesar bagi ekonomi AS dalam beberapa dekade terakhir,” dalam pernyataan yang disiapkan untuk sebuah acara di St. Louis pada Senin. Jika dampak inflasi dari tarif ini terbukti kecil, menurut Waller, pemangkasan suku bunga “sangat mungkin” dilakukan pada paruh kedua 2025.

(bbn)

No more pages