Vanda mengatakan faktor penekan konsumsi BBM kali ini disebabkan karena penurunan jumlah pemudik yang tidak sebanyak tahun sebelumnya.
“Kalau saya baca di berita ya paling tidak mungkin karena jumlah pemudik juga tidak sebanyak tahun lalu,” kata Vanda.
Untuk diketahui, Posko Rafi 2025 yang digelar oleh BPH Migas berlangsung selama periode 17 Maret—11 April atau sekitar 26 hari.
Dalam penutupan posko Rafi tersebut, BPH Migas melaporkan terjadi penurunan penyaluran BBM dibandingkan dengan tahun lalu.
Direktur BBM BPH Migas Sentot Harijady Bradjanto Tri Putro mengatakan konsumsi bahan bakar jenis solar (gasoil) selama periode tersebut naik 19% dari periode normal, sedangkan bensin (gasoline) naik 7%.
"Perinciannya, gasoline mengalami penurunan 6%, avtur 4%, kerosene [minyak tanah] 9%, sementara gasoil mengalami kenaikan 11%," ujarnya di sela konferensi pers.
Sentot juga menyebut selama periode Posko Rafi, Pertamina menyiagakan 125 terminal BBM, 7.746 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dan 70 depot pengisian pesawat udara (DPPU).
Menurut dia, ketahanan stok BBM selama periode tersebut terealisasi di rentang 19—21 hari.
Sementara itu dari sisi penyaluran, BPH Migas mencatat penyaluran bensin secara nasional paling tinggi terjadi pada 29 Maret 2025 dengan kenaikan 25,68% dari penyaluran normal.
Saat arus balik, puncak penyaluran bensin terjadi pada 5 April dengan kenaikan 19,17%.
Puncak penyaluran avtur saat arus mudik terjadi pada 28 Maret dengan kenaikan 11,99% dari penyaluran normal, sedangkan saat arus balik pada 7 April dengan kenaikan 14,41%.
(naw)































