AS juga mengenakan tarif resiprokal menjadi 10% dalam 90 hari untuk negara yang melakukan negosiasi terbuka dengan Washington.
“Hal ini berpotensi menyebabkan penurunan ekspor produk nikel ke AS,” kata Oktavianus.
“Pada akhirnya ini akan berdampak pada harga produk akhir dan juga bahan baku, seperti baterai NMC [nikel 10%] yang banyak digunakan oleh Tesla, NIO, dan BYD. Meski, baterai LFP yang tidak mengandung nikel juga mulai populer seperti di Tesla Model 3 dan Wuling.”
Peluang Baru
Bagaimanapun, menurut Oktavianus, AS akan membuka peluang pasar baru bagi negara-negara produsen nikel seperti Indonesia dan Filipina karena tarif resiprokal RI lebih rendah dibandingkan dengan China.
Pada 2024, Indonesia masih sangat bergantung pada pasar ekspor nikel ke China dengan porsi 92% dari total 1,92 juta ton.
“Kami berpandangan produk akhir buatan AS akan menjadi kurang kompetitif seiring kenaikan biaya tarif,” ujarnya.
Dalam kaitan itu, Oktavianus pun menyarankan agar Indonesia dapat memanfaatkan ruang peningkatan diversifikasi ekspor nikel, seiring dengan tarif yang lebih rendah dari China.
Dengan demikian, nikel Indonesia memiliki daya saing, khususnya untuk ke AS. Selain itu, permintaan nickel pig iron (NPI) Indonesia berpotensi meningkat dari Eropa, sehingga RI dapat mengurai ketergantungan pada pasar Negeri Panda.
Terpisah, Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Djoko Widajatno membenarkan dampak tarif AS terhadap sektor pernikelan sebenarnya akan sangat tergantung dari mitra dagang utama Indonesia.
Penyebabnya, sebagian besar produk nikel Indonesia tidak langsung masuk ke AS, melainkan ke China.
Akan tetapi, jika China diganjar tarif lebih tinggi oleh AS, raksasa Asia Timur tersebut rawan menurunkan permintaan impor terhadap produk olahan nikel dari Indonesia.
“Maka dampaknya tetap terasa secara tidak langsung,” kata Djoko saat dihubungi, Jumat (11/4/2025).
Djoko memerinci produk seperti prekursor baterai, baterai EV, hingga baja nirkarat—di mana nikel menjadi salah satu bahan baku terpentingnya — rentan terpapar tarif Trump.
Hal tersebut pada akhirnya membuat produk hilir nikel, khususnya baterai, menjadi kurang kompetitif di pasar AS.
Untuk itu, APNI menilai pelaku industri hilir nikel bisa mempertimbangkan opsi untuk mencari pangsa pasar ekspor yang lebih bervariasi.
“Namun ini bisa juga menjadi pemicu untuk meningkatkan [serapan] pasar domestik dan regional, serta mendorong diversifikasi pasar nikel ke India, Uni Eropa, dan lainnya,” ujar Djoko.
-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(wdh)






























