Hadi memperkirakan biaya logistik LPG dari AS juga akan lebih tinggi dibandingkan dengan dari Timur Tengah, mengingat jaraknya yang lebih jauh.
“Secara kasar dapat dilihat jaraknya lebih jauh, sehingga shipping cost akan signifikan naik dari biasanya. Nah, ini perlu dihitung dalam komponen harga,” terangnya.
Kesesuaian Spek
Tidak hanya soal ongkos logistik, Hadi menyarankan pemerintah untuk betul-betul cermat mempertimbangkan harga LPG AS dibandingkan dengan Timur Tengah, serta kesesuaian LPG AS dengan spesifikasi kilang atau infrastruktur LPG di Tanah Air.
Dalam kaitan itu, Hadi menggarisbawahi, komponen LPG asal Amerika berbeda dengan yang biasa digunakan di Indonesia. LPG di Indonesia terdiri dari 60% butana (C4) dan 30% propana (C3). Sebaliknya, LPG di AS merupakan 100% C3.
“Artinya, infrastruktur LPG sekarang harus dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan karakter LPG di AS. Bukan tidak bisa, sangat bisa, tetapi pertimbangkan penambahan biayanya,” ujarnya.
Apabila seluruh komponen biaya untuk mengimpor LPG dari AS ternyata justru lebih memberatkan dari anggaran eksisting, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan APBN akan kian terbebani; mengingat impor LPG masih dibiayai anggaran subsidi energi.
Dengan demikian, Hadi menilai wacana realokasi impor LPG ke AS tidak akan efektif di tataran eksekusi, meski cukup menarik dari sisi konsep.
“Menurut saya, pemerintah harus punya konsep konversi LPG ke gas. Kalau sama-sama impor, impor LNG lebih masuk akal daripada impor LPG. LNG lebih murah per satuan MMBtu daripada LPG. Sama-sama impor dari AS,sehingga bisa jadi bahan negosiasi tarif.”
Hingga saat ini Indonesia mengimpor sekitar 6—7 juta ton LPG per tahun untuk kebutuhan domestik sekira 8 juta ton per tahun. Hal ini menyebabkan beban ekonomi sekitar Rp63,5 triliun per tahun dalam APBN.
Adapun, sumber utama impor LPG Indonesia berasal dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, Algeria, dan AS.
Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut pemerintah tengah menghitung wacana untuk meningkatkan impor LPG dari AS.
Rencana untuk menggenjot impor LPG dari AS bertujuan untuk menyetarakan neraca perdagangan antara Indonesia dengan Negara Paman Sam di tengah agresivitas kebijakan penaikan tarif bea masuk oleh Presiden Donald Trump.
Bahlil menyampaikan bahwa neraca perdagangan RI terhadap AS surplus US$14 miliar—US$15 miliar per tahun atau sekitar Rp237,06 triliun—Rp253,99 triliun (kurs Rp16.933 per dolar AS).
Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan Bahlil untuk melihat potensi apa saja yang bisa dibeli dari AS. Langkah ini merupakan salah satu bentuk negosiasi yang akan ditawarkan ke AS setelah Donald Trump mengumumkan tarif resiprokal terhadap Indonesia sebesar 32%
“Kita tahu bahwa impor minyak [dan LPG] kita kan cukup besar. Nah, ini yang sedang kami kaji untuk dijadikan sebagai salah satu komoditas yang bisa kita beli di Amerika,” kata Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (9/4/2025).
Hingga saat ini, kata dia, sekitar 54% dari keseluruhan impor LPG di Indonesia berasal dari AS. Bahlil juga menjelaskan kajian yang saat ini sedang dilakukan oleh pemerintah meliputi nilai keekonomian ihwal penambahan volume impor migas dari AS.
“Logikanya, seharusnya lebih mahal [impor dari AS] karena transportasinya. Akan tetapi, buktinya harga LPG dari Amerika Serikat sama dengan dari Timur Tengah. Jadi, saya pikir semua ada cara untuk menghitung,” jelas dia.
Meski Indonesia berencana untuk menggenjot impor migas dari AS, Bahlil menyampaikan tidak ada rencana bagi pemerintah untuk menghentikan impor migas dari Singapura, Afrika, maupun Timur Tengah.
“Tidak distop, volumenya yang mungkin dikurangi,” ujarnya. “Dalam bisnis kan yang penting adalah produk yang diterima di negara kita karena dengan harga yang kompetitif.”
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya memastikan rencana impor LPG dari AS tidak akan membebani APBN lantaran hanya direalokasi dari negara pemasok lain, bukan menambah volume.
-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(wdh)





























