Menurut Moshe, proyek itu menghabiskan investasi sekitar US$4 miliar sampai dengan US$6 miliar. Ekspansi kilang Balikpapan, padahal, hanya untuk meningkatkan kemampuan pengolahan minyak mentah 100.000 bph.
Moshe menggarisbawahi, nilai keekonomian pembangunan kilang tidak terlalu besar karena butuh waktu belasan tahun untuk balik modal khususnya dari sisi operasional, konstruksi, hingga desain kilang.
Dengan mematok biaya pembangunan kilang sebesar US$600 juta produk hingga teknologi yang digunakan nantinya dinilai tidak akan bagus karena di luar standarisasi pembangunan kilang.
“Nanti yang kilang Balikpapan bakal dipertanyakan biayanya bisa miliaran dolar. Ini 60.000 bph, enggak lebih dari setengahnya cuma US$600 juta. Bisa jadi kasus nanti,” tuturnya.
Dia meminta Bahlil untuk mempelajari gagalnya pembangunan kilang di RI sejak belasan tahun lalu, tetapi tidak pernah terealisasi hingga saat ini.
“Pelajari juga kenapa itu tidak terjadi kenapa masalahnya, kedalanya di mana. Jadi ini bukan hal yang mudah. Jangan terlalu mensimplifikasi, mengeneralisasi dua suatu proyek yang sekompleks kilang minyak ini,” ucapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Bahlil mengatakan pemerintah tengah mempertimbangkan skenario membuat kilang berkapasitas kecil sekitar 60.000 bph, tetapi berjumlah banyak.
Skenario ini, menurut Bahlil, menelan investasi yang lebih ringan untuk tiap unitnya dibandingkan dengan membangun satu unit dengan kapasitas raksasa.
“Sekarang feasibility study finalnya lagi dibuat. Nah, itu jauh lebih murah. Kalau kilang per 60.000 bph itu jauh lebih murah, harganya sekitar US$600 juta—US$700 juta. Jadi kalau kita compile menjadi 500.000 bph itu tidak lebih dari US$6 miliar,” katanya ditemui di sela acara Pelepasan Mudik Bareng Sektor ESDM 2025, Kamis (27/3/2025).
Skema tersebut, lanjut Bahlil, menggunakan metode pembangunan per titik atau spot. Dia menyebut saat ini pemerintah sedang melakukan studi terhadap negara-negara yang sudah memakai skenario tersebut, khususnya di wilayah Amerika Latin dan Afrika.
Dengan asumsi skenario tersebut, kata Bahlil, proyek kilang dengan kapasitas kumulatif 1 juta bph kemungkinan akan dibangun secara tersebar di banyak lokasi di Tanah Air.
“Negara kita ini kan negara kepulauan. Negara kepulauan yang memang kita harus mempertimbangkan aspek logistik. Nah, kita lagi menghitung apakah memang lebih ekonomis dan tepat di satu tempat, atau kita akan buat per spot-spot,” jelasnya.
(mfd/naw)































