Korsel dikenai pungutan sebesar 25%, salah satu bea masuk tertinggi yang pernah dikenakan pada sekutu AS, pekan lalu.
"Kami telah menyatakan penyesalan kami tentang hal ini, dan kali ini, kami akan mengemukakan fakta bahwa AS menghitung tingkat tarif yang sangat tinggi untuk negara yang telah menerapkan FTA Korea-AS selama 12 tahun," kata Cheong.
Bea masuk baru ini diumumkan tepat pada saat tarif Trump sebesar 25% untuk impor mobil AS mulai berlaku, menambah tarif baja dan aluminium sebesar 25% yang diberlakukan bulan lalu—semuanya merupakan ekspor utama bagi negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia ini.
"Ini adalah sesuatu yang pasti akan kami bahas selama kunjungan ke AS," kata Cheong seraya berjanji akan mengumpulkan informasi tentang rencana pemerintah AS di sektor-sektor lain, termasuk industri cip.
Sementara sekutu AS lainnya, Jepang, tampaknya akan memulai perundingan dagang dengan Washington, kemampuan Korsel untuk menghadapi tarif besar-besaran Trump masih terhambat karena negara ini akan mengadakan Pemilu dalam beberapa pekan mendatang.
Mantan Presiden Yoon Suk Yeol dicopot dari jabatannya pekan lalu karena memberlakukan darurat militer yang mendadak pada Desember lalu, membuat ekonomi yang bergantung pada ekspor ini tanpa arah kebijakan yang jelas saat Trump memberlakukan rentetan tarif.
Seoul berencana mengumumkan rencana anggaran tambahan sebesar 10 triliun won (US$6,8 miliar) pekan depan untuk menopang ekonomi yang melambat, di mana sepertiga dari jumlah total akan dialokasikan untuk menangani risiko perdagangan dan meningkatkan kemampuan kecerdasan buatan (AI) negara tersebut.
(bbn)





























