Pekerjaan akan digantikan. Cuma kita akan digantikan kalau kitanya nggak pakai AI," papar dia.
Nadya menambahkan bahwa tantangan utama saat ini adalah bagaimana pekerja dapat menggunakan AI agar tetap relevan di dunia kerja. Mereka yang tidak menguasai teknologi ini akan kalah bersaing.
Di lain sisi, pekerja yang mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Pasalnya AI bertindak sebagai asisten yang membantu pekerjaan manusia.
Dengan AI segala hal bisa dipenuhi secara lebih cepat dan lebih cerdas. AI, ditegaskan kembali, bukan sebagai pengganti secara total.
Profesi yang Diuntungkan, Sekaligus Dirugikan Karena AI
Pasalnya para ilmuwan sendiri menurutnya baru memahami sekitar 10% dari fungsi otak manusia, sehingga potensi kreativitas dan inovasi manusia masih jauh melampaui kecerdasan buatan.
Satu sisi pekerjaan yang bersifat administratif mungkin akan tergantikan, namun pada saat bersamaan AI juga menciptakan peluang baru bahkan memunculkan profesi yang sebelumnya tidak ada, seperti super prompter—orang yang ahli dalam menulis perintah untuk AI agar dapat bekerja dengan optimal, terang Nadya.
Mengenai AI yang makin sempurna bahkan dalam menciptakan bentuk kreatif seperti gambar, lukisan, atau bahkan musik, lanjut Nadya, kreativitas manusia tetap tidak tergantikan. "Jadi orang-orang yang jago nulis prompter supaya AI itu bisa bagus kerjanya. Nah itu kan pekerjaan baru yang sebelumnya nggak ada," jelasnya.
(wep)































