Sementara itu, ekonomi AS tumbuh dengan kecepatan yang solid di akhir 2024, meskipun inflasi lebih persisten dari perkiraan awal. Produk domestik bruto (PDB) naik 2,3% secara tahunan di kuartal keempat, tidak berubah dari estimasi sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi masyarakat yang meningkat 4,2%.
“Investor menginginkan suku bunga lebih rendah dari The Fed, tetapi mereka juga tidak ingin melihat perlambatan ekonomi yang signifikan sebagai penyebabnya,” kata Bret Kenwell dari eToro. “Jika ekonomi memang harus melambat, investor setidaknya ingin inflasi ikut turun.”
Berita tentang tarif yang akan diterapkan pada Kanada dan Meksiko—dua pemasok minyak mentah terbesar ke AS—mendorong kenaikan harga minyak. West Texas Intermediate (WTI) naik 2,2% pada Kamis hingga melampaui US$70 per barel. Sebaliknya, harga emas mengalami penurunan.
Di Asia, pemerintah India sedang mempertimbangkan untuk menurunkan tarif pada berbagai jenis impor, termasuk mobil dan bahan kimia, guna menghindari kemungkinan tarif balasan dari Trump. Usulan ini jauh lebih luas dibandingkan pemangkasan tarif sebelumnya, seperti pada motor mewah dan wiski bourbon.
Beberapa data ekonomi yang akan dirilis meliputi inflasi Tokyo, produksi industri Jepang, PDB kuartal keempat India, serta data perdagangan Sri Lanka.
Gubernur bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, kembali menegaskan bahwa bank sentral siap melakukan intervensi di pasar obligasi jika terjadi lonjakan imbal hasil yang terlalu cepat. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan para pembuat kebijakan ekonomi di Cape Town pekan ini.
Inflasi PCE
Sementara itu, Beth Hammack, Gubernur Federal Reserve Bank of Cleveland, mengatakan bahwa suku bunga saat ini belum cukup menekan inflasi secara signifikan dan sebaiknya tetap dipertahankan hingga ada bukti kuat bahwa inflasi kembali ke target 2%.
Pernyataan ini muncul menjelang rilis data inflasi pilihan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan melambat ke level terendah sejak Juni. Namun, kemajuan yang lambat dalam mengendalikan harga masih membuat para pembuat kebijakan berhati-hati dalam menurunkan suku bunga lebih lanjut.
Indeks harga konsumsi pribadi inti (PCE)—yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang fluktuatif—diperkirakan naik 2,6% pada Januari dibandingkan tahun sebelumnya, menurut estimasi median dalam survei Bloomberg. Secara keseluruhan, inflasi PCE juga diperkirakan mengalami sedikit penurunan.
“Indikasi bahwa tekanan harga bisa kembali meningkat, bahkan sebelum dampak dari tarif baru diberlakukan, seharusnya menjadi peringatan bagi prospek inflasi dalam jangka pendek,” ujar Jim Baird dari Plante Moran Financial Advisors.
(bbn)





























