Logo Bloomberg Technoz

Analis Financial Expert Ajaib Panji Yudha memaparkan, laporan inflasi PCE menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter. Jika inflasi masih tinggi, peluang penurunan suku bunga bisa berkurang, yang dapat mempengaruhi pasar aset berisiko seperti BTC.

“Faktor eksternal seperti data ekonomi utama dan pernyataan The Fed bisa menjadi pemicu volatilitas tinggi. Di tengah ketidakpastian ini, pemantauan sentimen pasar dan kesiapan menghadapi pergerakan ekstrim menjadi kunci bagi investor,” mengutip riset yang diterbitkan, Kamis (27/2/2025).

Aset Kripto lain seperti Dogecoin, Solana, XRP, dan Ethereum juga searah Bitcoin yang mengalami kerugian yang lebih berat.

Mengutip data CoinMarketcap, top market caps aset kripto kompak melemah. Adapun yang paling ambles dalam terjadi pada Dogecoin DOGE milik Elon Musk dengan kehilangan 18,09% dalam tujuh hari perdagangan, dan ambles 37,87% dalam sebulan perdagangan menuju harga US$0,2082.

Solana SOL ada di posisi kedua pada deretan Aset Kripto paling jatuh, adapun pelemahannya mencapai 17,99%, dan secara sebulan ambruk 41,15% pada harga US$140,42.

Saat tulisan ini dibuat, Bitcoin tengah terpeleset di level US$86.097 dengan melaju di zona merah dalam seminggu perdagangan, melemah 11,11%. Kapitalisasi pasar Aset Kripto juga berguguran ke kisaran US$2,77 Triliun.

Panji menyebut dalam riset terpisah pagi tadi, MACD bar histogram Bitcoin dalam momentum Bearish.

Secara teknikal, Panji menganalisis, Bitcoin ada rebound di support trendline. Hingga Bitcoin berpotensi menguat terbatas ke sekitar US$85.000 sampai dengan potensialnya US$88.000. Stochastic indikasi rebound dari area Oversold.

Aset Kripto dan Bitcoin Diselimuti Sentimen Negatif

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rincian tarif baru, yang memperpanjang tekanan terhadap permintaan aset berisiko di pasar global.

Pernyataan Trump bahwa pemerintahannya akan menerapkan tarif 25% terhadap Uni Eropa, sementara tarif yang sebelumnya diumumkan terhadap Meksiko dan Kanada akan mulai berlaku pada 2 April.

“Perdebatan masih berlanjut apakah presiden akan kembali menunda dan melonggarkan kebijakan ini, atau justru mulai menerapkan retorika yang lebih agresif,” kata Marvin Loh dari State Street

Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta, Raphael Bostic, menegaskan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sebaiknya mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk terus menekan inflasi.

“Kita harus tetap berada di posisi ini,” papar Bostic di Atlanta pada Rabu.

Tingkat Suku Bunga The Fed (Bloomberg)

“Kita bisa mengatakan bahwa mandat ketenagakerjaan telah tercapai, dan sekarang kita harus mengendalikan mandat stabilitas harga,” lanjutnya. 

“Kita perlu tetap dalam kebijakan yang restriktif,” tegasnya.

Pembuat kebijakan The Fed memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga bulan lalu, memberi mereka lebih banyak waktu untuk melihat perkembangan inflasi serta dampak kebijakan Presiden Donald Trump terhadap perekonomian. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada dalam kisaran target 4,25% hingga 4,5%, turun satu poin persentase penuh sejak September.

(fad)

No more pages