Logo Bloomberg Technoz

Dirinya turut menekankan, AI tidak hanya relevan bagi perusahaan berbasis teknologi, tetapi juga untuk sektor lain seperti energi dan perkebunan. Implementasi AI juga tidak selalu harus berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga dapat digunakan untuk mengurangi biaya operasional dan investasi modal (capex).

Direktur Digital Business Telkom, Muhamad Fajrin Rasyid di Business Update Inisiatif Artificial Intelligence (AI) TelkomGroup (Bloomberg Technoz/Pram)

Adapun dalam konteks Telkom sendiri, Fajrin menyebut AI digunakan untuk membantu perencanaan investasi capex agar lebih optimal.

"Telkom itu banyak berurusan dengan capex untuk membangun infrastruktur. Beli tower baru, beli kabel baru dan lain sebagainya gitu ya. Nah itu di kami merupakan salah satu elemen biaya yang sangat pesat. Sehingga, kalau misalkan itu dilakukan dengan tidak efisien kan sayang. Nah, dengan AI ini kami bisa membuat efisiensi kenapa? Karena AI kemudian membantu kami untuk memprediksi," jelasnya. 

"Sehingga planning capex yang kemudian kami lakukan itu bisa lebih optimal. Dalam arti jangan sampai kami bikin kabel, gelar kabel dimana, terus nggak ada pelanggannya. Kan itu jadi yang kemudian apa namanya efisien. Yang sehingga outputnya adalah capex yang lebih optimal," tegas dia. 

Berdasarkan riset dari Statista, Precedence Research, dan Gartner, pasar AI global diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 20-24% hingga tahun 2032. Sementara itu, nilai pasar AI di Indonesia, diperkirakan mencapai US$4,03 miliar pada tahun 2030.

Pemerintah Indonesia telah merespons tren ini dengan meluncurkan Strategi Nasional AI 2020-2045, yang bertujuan membangun ekosistem AI yang berkelanjutan. 

Sejalan dengan hal tersebut, Telkom menghadirkanBigBox AI, tujuannya membantu instansi pemerintah dan perusahaan dalam mengotomatisasi tugas rutin, memungkinkan tenaga kerja untuk lebih fokus pada aspek strategis, kreatif, dan pengambilan keputusan.

"Bigbox AI hadir untuk membantu para pelaku bisnis hingga instansi pemerintah dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menghadirkan layanan yang lebih cerdas," kata CEO Bigbox AI Agus Laksono pada kesempatan yang sama.

Lebih lanjut, BigBox AI mengembangkan teknologi Large Language Models (LLM) dan Natural Language Processing (NLP) yang telah dimanfaatkan oleh berbagai instansi pemerintah untuk analisis teks dan percakapan. Teknologi ini tidak hanya mempercepat komunikasi dan pengambilan keputusan, tetapi juga meningkatkan kredibilitas layanan di berbagai industri.

Fitur BigBox AI:

  • AI Analytics untuk membantu bisnis memahami pola data untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.
  • Smart Automation memungkinkan perusahaan mengurangi pekerjaan manual dan meningkatkan produktivitas.
  • AI Chatbot menghadirkan layanan pelanggan yang lebih cerdas dan efisien.
  • Fraud Detection membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan dalam keamanan data dan transaksi.

(prc/wep)

No more pages