"Artinya siap. Tinggal bagaimana melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Dan juga mereka bertanya, ini kalau terjadi penemuan ya, misalnya, wah ini gula darahnya ada masalah terlalu tinggi, tensinya terlalu tinggi, ini dialurkan ke mana? Ini yang harus kita perhatikan juga," ujarnya.
"Karena tidak setiap daerah itu mempunyai rujukan yang cukup baik. Jadi tidak semua kabupaten kota. Misalnya daerah terpencil ya, khususnya. Ini juga perlu waktu kalau misalnya mereka menemukan satu kasus, harus dirujuk ke mana. Saya kira pemerintah pusat, kementerian kesehatan telah mempersiapkannya. Bukan hanya pemeriksaan, tetapi juga rujukan kasus tersebut," ujarnya.
2 minggu berjalan program cek kesehatan, Subuh menyebut bahwa rata-rata pasien yang banyak ditemukan diabetes sekitar 30%.
"Kalau penyakit tidak menular sih, ya seperti itu. Diabetes ini kan suatu penyakit yang mungkin yang baru terdiagnosis itu 30% dari seluruh kasus yang ada. Angka temuan kasus terhadap pemeriksaan gula darah itu rata-rata tinggi. Termasuk juga tensi juga tinggi," ujarnya.
"Artinya apa? Artinya gini, kalau kita bisa mengatasi, bukan mengatasi, mengintervensi faktor risiko gula, garam, dan lemak, maka insya Allah kita bisa menurunkan kasus," imbuhnya.
(dec/spt)






























