Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan bila Indonesia tidak menyiapkan ekosistem kepastian berusaha, investasi tidak akan masuk. Negara tetangga seperti Vietnam padahal telah memberikan kepastian untuk investor dan berhasil meraup total investasi Rp256 triliun dari Apple Inc.
"[Investor] yang lain-lain juga akan investasi ke sana. Jadi memang negosiasi itu perlu, tetapi yang lebih perlu adalah kerja dalam diam memperbaiki iklim investasi. Nah ini yang kita masih tertinggal," ujar Wijayanto.
Ambil Peluang
Untuk menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang dari perang dagang ini, Rizal mengatakan, Indonesia perlu menerapkan beberapa strategi.
Pertama, peningkatan daya saing industri melalui efisiensi produksi, reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan agar Indonesia bisa lebih kompetitif di pasar global.
Kedua, perbaikan iklim investasi harus menjadi prioritas, termasuk menyederhanakan proses perizinan dan memberikan insentif menarik bagi investor asing agar lebih banyak perusahaan yang memilih Indonesia sebagai tujuan relokasi.
Ketiga, diversifikasi pasar ekspor menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan China. Upaya ini bisa dilakukan melalui perjanjian perdagangan bebas serta penguatan kerja sama ekonomi regional.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meluncurkan serangan pertama dalam perang tarifnya, dengan bea umum sebesar 25% untuk Kanada dan Meksiko serta 10% untuk China.
Namun, Trump pada akhirnya menyetujui penundaan tarif sebesar 25% terhadap Meksiko selama satu bulan setelah berdiskusi dengan Presiden Claudia Sheinbaum pada Senin (3/2/2025).
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga mengumumkan bahwa tarif baru AS akan ditunda selama 30 hari setelah pembicaraan dengan Presiden Donald Trump.
Selain itu, Trump menyatakan bahwa ia kemungkinan besar akan berbicara dengan pejabat China dalam 24 jam ke depan terkait ancamannya untuk mengenakan tarif 10%.
“Itu hanya langkah awal. Jika kami tidak mencapai kesepakatan dengan China, maka tarif akan menjadi sangat besar,” katanya.
(dov/wdh)






























