PLTA Kukusan memiliki kapasitas 5,4 megawatt (MW). Perkembangan proyek ini hingga akhir Desember 2024 telah mencapai 55,8%.
PLTA Tomoni memiliki kapasitas 10MW jika beroperasi nanti. Perkembangan pengerjaan proyek ini baru sekitar 15% hingga akhir tahun lalu.
Tambah Kapasitas
Seperti diketahui, Kementerian ESDM pada awal tahun ini memasukkan tiga jenis sumber energi baru ke RUU EBT.
Ketiganya adalah, hidrogen, amonia, dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Menurut Nicko, hal itu menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan sektor EBT dalam negeri.
Sehingga, diharapkan, dengan adanya perubahan kebijakan, terutama dalam perumusan RUU EBT dan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pemerintah dapat mempercepat kepastian hukum yang diperlukan oleh sektor swasta.
"Dengan dirilisnya RUPTL yang lebih berfokus pada energi hijau, kami yakin arah pembangunan sektor EBT akan semakin jelas, dan kami sebagai pihak swasta bisa berpartisipasi lebih aktif dalam mendukung program-program pemerintah," jelas Nicko.
Mempertimbangkan perkembangan RUU EBT, ARKO semakin agresif dalam memperbesar kapasitas PLTA hingga 261,2 MW dalam beberapa tahun ke depan.
Selain fokus pada percepatan konstruksi PLTA Kukusan dan Tomoni, ARKO saat ini masih mengoptimalkan portofolio PLTA yang sudah ada.
Adapun tiga proyek PLTA yang telah beroperasi, yaitu:
- Cikopo, Jawa Barat (7,4 MW)
- Tomasa, Sulawesi Tengah (10 MW)
- Yaentu, Sulawesi Tengah (10 MW).
Manajemen tetap membuka peluang untuk menambah portofolio baru, meski masih tetap fokus pada PLTA.
"Lebih dari itu, kami fokus mencari lokasi strategis dalam membangun proyek pembangkit ke depannya," kata Nicko.
(dhf)






























