Logo Bloomberg Technoz

Saham-saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya PT Multitrend Indo Tbk (BABY) yang melesat 34,6%, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) melonjak 26,7%, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melejit 24,7%.

Sedangkan saham-saham yang melemah dan menjadi top losers antara lain PT Xolare Rcr Energy Tbk (SOLA) yang jatuh 25%, PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) ambruk 24,8%, dan PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) anjlok 14,6%.

Pada sore hari ini, sejumlah indeks saham utama Asia juga kompak bergerak menghijau. Hang Seng (Hong Kong) berhasil menguat 1,59%, Nikkei 225 (Tokyo) yang meningkat 1,39%, Ho Chi Minh Stock Exchange (Vietnam) terdongkrak 1,15%, PSEI (Filipina) melonjak 1,06%, Kospi (Korea Selatan) terbang 0,83%, dan Weighted Index (Taiwan) terangkat 0,74%.

Senada, SETI (Thailand) mencatat penguatan 0,53%, KLCI (Malaysia) menguat 0,49%, Straits Time (Singapura) juga menghijau 0,47%, CSI 300 (China) terbang 0,39%, Shenzhen Comp. (China) menguat 0,29%, Topix (Jepang) menghijau 0,24%, dan juga Shanghai Composite (China) yang menghijau 0,08%.

Adapun Bursa saham Asia terpapar gerak positif yang menghijau dengan yang terjadi di New York. Dini hari tadi waktu Indonesia, 3 indeks utama di Wall Street kompak finis di zona penguatan.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menetap di zona hijau dengan kenaikan 0,88% dan juga S&P 500 yang menguat 1,173%. Lebih unggul, Nasdaq Composite berhasil menguat mencapai 1,40%.

Indeks saham Asia mengikuti arah kenaikan yang terjadi di Wall Street, setelah pelaku pasar menerima sinyal yang amat positif dari pengumuman Indeks Harga Konsumen (IHK) inti atau inflasi Amerika Serikat yang berhasil melandai, membuka peluang pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral AS mencapai dua kali tahun ini.

Adapun inflasi inti Amerika Serikat, hanya mencatat kenaikan 0,3% dari Maret bulan sebelumnya, menurut data resmi yang dirilis pada Rabu (15/5/2024). Secara tahunan, IHK melandai ke angka 3,6%.

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, acuan inflasi AS yang mendasari harga-harga berhasil melambat pada April untuk pertama kalinya dalam enam bulan, memberikan sinyal tekanan yang terjadi mulai mereda secara bertahap dan mendukung niat Federal Reserve untuk memangkas suku bunga di tahun ini.

Para ekonom melihat ukuran inti sebagai indikator yang lebih baik dari inflasi yang mendasari daripada IHK secara keseluruhan. Ukuran tersebut hanya menguat 0,3% dari bulan sebelumnya, 0,4% dan 3,4% dari tahun lalu, 3,5%, angka Biro Statistik Tenaga Kerja.

“Data ini bisa menjadi indikasi bahwa tekanan inflasi akan mereda dan The Fed (Federal Reserve) bisa menurunkan suku bunga acuan,” tegas Phillip Streble, Chief Market Strategist di Blue Line Futures.

Menariknya, pasar swap yang sebelumnya memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga acuan tahun ini, tetapi meningkat menjadi dua kali setelah data inflasi diumumkan semalam. 

"Kami melihat data April konsisten dengan arah pergerakan dinamika inflasi yang– dalam konteks moderasi dalam ekonomi riil, dapat menghasilkan penurunan suku bunga pada bulan September diikuti oleh penurunan kedua pada bulan Desember," kata Krishna Guha dari Evercore.

Data Penjualan Ritel Amerika Serikat terpisah menunjukkan beberapa pelemahan dari Permintaan Konsumen yang tangguh yang telah menopang ekonomi. Adapun Penjualan Ritel di hanya meningkat 3% yoy pada April 2024, menyusul kenaikan 3,8% yang direvisi sebelumnya pada bulan Maret. 

"Pasar menyukai ini," kata Gary Pzegeo dari CIBC Private Wealth US.

"Berita tentang inflasi inti lebih baik dari perkiraan. Penjualan Ritel juga menunjukkan beberapa perlambatan dari sektor konsumen yang sebelumnya panas. Secara keseluruhan, ini mendukung penurunan suku bunga The Fed pada musim gugur,” tambahnya.

(fad)

No more pages