Logo Bloomberg Technoz

Dari penyaluran kredit tersebut, sebesar 83,25% diantaranya atau sejumlah Rp1.089,41 triliun merupakan portofolio kredit untuk segmen UMKM. Penyaluran kredit yang tumbuh double digit tersebut berdampak terhadap meningkatnya aset perseroan, dimana tercatat aset BRI mencapai sebesar Rp1.989,07 triliun atau tumbuh 9,11% yoy.

Dari penyaluran kredit tersebut, BRI mampu menjaga kualitas kredit yang disalurkannya. Hingga akhir Kuartal I 2024 tercatat rasio Non Performing Loan (NPL) BRI terkendali dikisaran 3,11% dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang membaik, dari 16,39% pada Kuartal I-2023 menjadi 12,70% di akhir Kuartal I-2024.

Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis dalam riset terbarunya mengatakan laba bersih BBRI relatif tumbuh stabil yang didukung oleh pendapatan yang kuat sehingga bisa mengcover pencadangan. Net interest income (NII) tumbuh sehat 16% yang didorong oleh pertumbuhan kredit yang kuat.

Dengan kinerja tersebut, Sucor memberikan rekomendasi Beli untuk saham BBRI dengan target harga Rp6.400. "Target harga kami setara dengan 2,8x price to book pada 2024 dengan asumsi return on equity 23% dengan cost to equity 12%," ujarnya.

Analis Ciptadana Sekuritas Erni Marsella Siahaan dalam riset terbarunya, Kamis (25/4/2024) mengatakan, perolehan laba bersih BRI (BBRI) yang juga turun 1,4% secara kuartalan itu sejatinya sedikit di bawah perkiraannya.

Akan tetapi, laba bersih BRI (BBRI) masih in-line dengan perkiraan konsensus, yakni setara 24% dari perkiraan satu tahun penuh.

Yang menjadi catatan Erni, BRI (BBRI) mencatatkan laba sebelum provisi atau pre-provisioning operating profit (PPoP) yang kokoh dengan kenaikan 22% secara tahunan dan 13% secara kuartalan menjadi Rp30,7 triliun di kuartal satu tahun ini.

Torehan itu disebabkan dua faktor. "Pertama, ekspansi yield aset karena kontribusi entitas usaha [PNM dan Pegadaian] yang lebih besar," ujar Erni.

PNM dan Pegadaian mampu membuat BRI (BBRI) mengerek net interest margin (NIM) 10 basis poin (bps) dengan kenaikan pendapatan bunga bersih 10% secara tahunan dan 6% secara kuartalan.

"Faktor kedua, kembali membaiknya pendapatan bunga BBRI, dan tren ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini," jelas Erni.

Namun, Erni menggarisbawahi NIM BRI akan terpengaruh kenaikan bunga acuan. Manajemen BRI (BBRI) sendiri telah merevisi target NIM 20 bps lebih rendah menjadi 7,6%-8% dari sebelumnya 7,8%-8%.

Erni mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp7.000/saham. Target harga ini sendiri lebih rendah dari target sebelumnya Rp7.150/saham.

(tim)

No more pages