Logo Bloomberg Technoz

Bagi Pertamina, kepastian pasokan karbon dioksida (CO₂) menjadi salah satu aspek penting sebelum mengembangkan fasilitas penyimpanan berskala besar. Perusahaan juga membutuhkan kesiapan fasilitas penangkapan karbon di sisi industri serta komitmen komersial yang dapat menjamin keberlangsungan proyek.

"Proyek CCS lintas batas bukan sekadar transaksi komersial penyimpanan karbon, melainkan sebuah kemitraan strategis jangka panjang. Bagi perusahaan seperti Pertamina, pembangunan hub CCS memerlukan investasi awal yang sangat besar untuk studi karakterisasi, pengeboran sumur, fasilitas injeksi, hingga infrastruktur transportasi. Oleh karena itu, kami membutuhkan kepastian volume emisi, kesiapan fasilitas penangkapan di pihak industri, dan kontrak kerja sama jangka panjang," tegasnya.

Pengembangan infrastruktur CCS memerlukan investasi besar karena mencakup sejumlah tahapan, mulai dari studi karakterisasi geologi untuk memastikan kelayakan lokasi penyimpanan, pengeboran sumur, pembangunan fasilitas injeksi, hingga penyediaan sarana transportasi karbon. Kepastian pasokan CO₂ dan kontrak jangka panjang dinilai dapat membantu mengurangi risiko investasi sekaligus meningkatkan kelayakan proyek.

Untuk memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, Dannif mendorong pengembang proyek agar mengedepankan transparansi dan membangun infrastruktur dalam skala hub. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengintegrasikan berbagai proyek penangkapan, pengangkutan, dan penyimpanan karbon sehingga menciptakan ekosistem bisnis yang lebih terkoordinasi.

Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah diperlukan untuk memastikan tersedianya kerangka regulasi dan kelembagaan yang mendukung pelaksanaan proyek. Pengembang juga perlu mengagregasi kemitraan jangka panjang agar investasi yang dibutuhkan dapat ditopang oleh komitmen pasokan dan permintaan yang jelas.

PHE Bidik Keputusan Investasi Proyek CCS Lintas Batas

PHE menargetkan pencapaian tonggak penting dalam dua hingga tiga tahun mendatang, yakni keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek CCS lintas batas komersial pertama di kawasan Asia-Pasifik. Setelah keputusan investasi tersebut tercapai, proyek diharapkan dapat bergerak menuju tahap injeksi karbon.

Target itu menjadi bagian penting dalam upaya membuktikan kelayakan pengembangan CCS lintas negara di kawasan Asia. Keberhasilan proyek perintis diharapkan memberikan kepastian bagi investor mengenai aspek regulasi, model bisnis, teknologi, serta bentuk kemitraan yang dapat diterapkan pada proyek-proyek berikutnya.

"Jika proyek pertama ini berhasil membuktikan bahwa CO₂ dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi batas negara, dan disimpan secara permanen di bawah kerangka regulasi yang andal, maka pasar akan bergerak cepat dari tahap diskusi menuju replikasi. Keberhasilan ini akan memvalidasi kerangka kerja regulasi, model bisnis, solusi teknis, hingga struktur kemitraannya," papar Dannif.

Menurut dia, pembuktian melalui proyek komersial menjadi langkah penting untuk mengubah pembahasan mengenai CCS lintas batas menjadi implementasi nyata. Ketika proyek pertama mampu menunjukkan bahwa seluruh tahapan dapat berjalan secara aman dan memenuhi ketentuan yang berlaku, model tersebut berpeluang direplikasi di negara lain di kawasan Asia-Pasifik.

Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk mengambil peran dalam perkembangan industri ini. Potensi penyimpanan geologis yang besar, ditambah kedekatannya dengan pusat-pusat industri Asia, dapat menjadi modal untuk mengembangkan fasilitas penyimpanan karbon yang melayani kebutuhan lintas negara.

Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan penguatan kepastian regulasi, koordinasi antarlembaga, kesiapan infrastruktur, dan kemitraan komersial. Faktor-faktor itu menjadi bagian penting untuk memastikan fasilitas penyimpanan karbon dapat beroperasi secara berkelanjutan sekaligus memberikan kepastian bagi pihak yang menggunakan layanan tersebut.

Dannif juga menilai pengembangan CCS lintas batas sejalan dengan visi Asia Zero Emission Community (AZEC), sebuah inisiatif kerja sama untuk mendukung upaya pengurangan emisi di kawasan Asia. Dalam kerja sama ini, Jepang berpeluang memperoleh solusi penyimpanan emisi jangka panjang, sedangkan Indonesia dapat mengembangkan industri baru yang menghasilkan nilai tambah dengan tetap mendukung agenda rendah karbon.

"Bersama pemerintah, kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai hub CCS regional yang andal dan terpercaya untuk mendukung perjalanan dekarbonisasi di Asia," ujarnya.

Bagi PHE, pengembangan CCS merupakan bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan operasi dan bisnis hulu minyak dan gas bumi. Perusahaan menyatakan akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi yang berkelanjutan dengan memperhatikan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).

Komitmen tersebut juga mencakup penguatan budaya kepatuhan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta pencegahan kecurangan atau fraud. PHE menempatkan integritas, transparansi, dan etika sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang profesional.

Melalui pengembangan CCS dan penguatan tata kelola, PHE berupaya mendukung agenda dekarbonisasi sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan dalam rantai nilai industri penyimpanan karbon regional. Kepastian investasi dan terwujudnya proyek komersial lintas batas diharapkan menjadi faktor penentu untuk membawa potensi tersebut menuju implementasi.

(tim)

No more pages
Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone