Logo Bloomberg Technoz

Perseroan juga berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan penciptaan nilai bagi pemegang saham. Sepanjang 2026, Bank Mandiri telah membagikan dividen sebesar Rp50,6 triliun, termasuk dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp6,16 triliun.

Pembagian dividen tersebut menjadi bagian dari upaya manajemen memberikan imbal hasil kepada investor dengan tetap memperhatikan kekuatan permodalan dan keberlanjutan usaha. Bank Mandiri menyatakan akan terus menjaga kepercayaan investor melalui kinerja yang sehat serta penciptaan nilai jangka panjang.

Selain kinerja keuangan, perusahaan juga memperoleh sejumlah penghargaan sepanjang 2026. Pengakuan tersebut mencakup predikat Grand Champion dan Financial Services Champion dalam Danantara Indonesia CX100 Awards 2026, Asia’s Best SME Banking Ecosystem pada Euromoney Awards for Excellence 2026, serta Best Sustainable Bank dalam FinanceAsia Awards 2026.

Novita menyebut penghargaan tersebut sebagai dorongan bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

“Penghargaan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga kepercayaan nasabah, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan inovasi. Kami berharap Bank Mandiri dapat terus memberikan nilai tambah bagi nasabah sekaligus membawa layanan perbankan Indonesia semakin dikenal di tingkat global,” pungkas Novita.

Kredit Berbasis Ekosistem Perluas Pembiayaan

Bank Mandiri memperkuat strategi pembiayaan berbasis ekosistem dengan menghubungkan kebutuhan perusahaan, pelaku usaha, dan nasabah individu. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Per September 2026, kredit korporasi Bank Mandiri mencapai Rp700 triliun, tumbuh 22 persen YoY. Pembiayaan tersebut terhubung dengan kredit ekosistem turunan yang mencakup segmen usaha kecil dan menengah (SME), mikro, serta konsumer.

Direktur Operations Bank Mandiri Timothy Utama menjelaskan, kredit ekosistem turunan tercatat sebesar Rp174 triliun per September 2026, meningkat 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Keterhubungan layanan transaksi dan pembiayaan menjadi salah satu pendekatan perseroan dalam mendukung kebutuhan nasabah di berbagai segmen.

Pada segmen mikro, kredit non-subsidi Bank Mandiri mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 12,9 persen YoY. Penyaluran pembiayaan tersebut telah menjangkau 37 provinsi, sehingga memperluas dukungan bagi usaha produktif dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan kredit juga tercatat di sejumlah kawasan. Secara bank only, kredit di Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 10,3 persen YoY per September 2026. Di wilayah Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta, pertumbuhannya mencapai 5,97 persen, sedangkan Sumatera mencatat pertumbuhan 5,09 persen.

Timothy mengatakan, integrasi layanan ditujukan agar kebutuhan transaksi dan pembiayaan perusahaan, UMKM, hingga nasabah individu dapat terlayani secara lebih baik.

“Kami menghubungkan layanan bagi perusahaan, pelaku UMKM, dan nasabah individu agar kebutuhan transaksi serta pembiayaan mereka dapat terlayani dengan lebih baik. Dengan dukungan operasional yang andal, pendekatan ini membuka akses bagi usaha untuk berkembang dan memperluas kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Timothy.

Selain memperluas pembiayaan, Bank Mandiri juga menjalankan transformasi layanan untuk meningkatkan pengalaman nasabah. Perbaikan dilakukan di berbagai titik interaksi, mulai dari kantor cabang dan contact center hingga kanal digital.

Hingga September 2026, jumlah keluhan nasabah tercatat turun 74 persen dibandingkan Juli 2025. Waktu tunggu antrean di kantor cabang juga semakin singkat, sementara nasabah dapat terhubung dengan contact center lebih cepat tanpa dikenai biaya. Di sisi pembiayaan, hampir seluruh proses penilaian agunan kini dapat diselesaikan dalam dua hari kerja.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Livin’ Call, layanan contact center yang dapat diakses langsung melalui aplikasi Livin’ by Mandiri. Fitur ini memungkinkan nasabah terhubung dengan petugas dalam hitungan detik tanpa memerlukan pulsa atau biaya telepon.

Timothy menegaskan, transformasi layanan tidak hanya berfokus pada kemudahan akses, tetapi juga pada kualitas solusi yang diterima nasabah.

“Nasabah adalah pusat dari setiap langkah transformasi kami. Kami ingin setiap nasabah merasakan layanan yang cepat, tepat, dan memberikan solusi yang nyata di setiap touchpoint. Melalui inovasi digital dan perbaikan layanan yang berkelanjutan, kami berkomitmen terus menghadirkan personalized and delightful experience di setiap interaksi, sehingga dapat menjaga kepercayaan dan loyalitas nasabah dalam jangka panjang,” ujar Timothy.

Layanan Bullion dan Digital Perluas Akses Nasabah

Di luar bisnis kredit, Bank Mandiri mengembangkan bisnis bullion untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas. Sebagai bank konvensional pertama di Indonesia yang mengantongi izin bank bullion, perseroan menawarkan layanan Tabungan Emas, cicilan emas melalui Kredit Serbaguna Mandiri (KSM) Emas, hingga pengambilan emas fisik dalam satu ekosistem.

Melalui aplikasi Livin’ by Mandiri, nasabah dapat membuka Tabungan Emas dengan pembelian awal mulai dari 0,02 gram. Transaksi pembelian selanjutnya dapat dilakukan mulai dari 0,005 gram, sedangkan penjualan emas dimulai dari 0,01 gram. Layanan tersebut tersedia selama 24 jam secara real time.

Bank Mandiri juga menyediakan fasilitas pengambilan emas fisik dari saldo Tabungan Emas melalui 28 ATM Emas dan 458 kantor cabang. Nasabah dapat memilih emas dari merek ANTAM LM dan HRTA GOLD melalui layanan yang terhubung dengan Livin’ by Mandiri.

Direktur Information Technology Bank Mandiri Sunarto Xie mengatakan, pengembangan bisnis bullion bertujuan mengintegrasikan layanan emas digital dengan kebutuhan nasabah terhadap emas fisik.

“Melalui bisnis bullion, kami ingin memudahkan masyarakat mengakses layanan emas yang terintegrasi melalui Livin by Mandiri, mulai dari menabung, cicil emas, hingga ambil emas fisik dari tabungan emas. Pengembangan ini melengkapi layanan Bank Mandiri sesuai kebutuhan finansial nasabah yang semakin beragam,” ujar Sunarto.

Pengembangan layanan digital juga tercermin dari pertumbuhan pengguna dan aktivitas transaksi. Hingga September 2026, Livin’ by Mandiri memiliki 42,6 juta pengguna terdaftar. Sepanjang Januari hingga September 2026, aplikasi tersebut mencatat 4,18 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp3.863 triliun, masing-masing tumbuh 22 persen dan 20 persen secara tahunan.

Bank Mandiri mengembangkan Livin’ sebagai platform yang mengintegrasikan kebutuhan menabung, transaksi, pembiayaan, dan investasi, termasuk berbagai layanan gaya hidup. Sepanjang pengembangannya, perseroan menghadirkan tujuh fitur terbaru, yaitu QR+, e-Deposito, Livin’ Next-G+, Kredit Agunan Deposito, Kredit Agunan SBN, KSM Emas, dan Tabungan Emas.

Selain penambahan fitur, aplikasi tersebut menyediakan opsi personalisasi berupa pengaturan fitur, widget, pilihan penyedia layanan pembayaran, serta notifikasi. Langkah ini ditujukan agar nasabah dapat menyesuaikan pengalaman penggunaan aplikasi dengan kebutuhan masing-masing.

Untuk nasabah bisnis, Bank Mandiri mengembangkan Kopra by Mandiri sebagai platform transaksi perbankan. Hingga September 2026, platform tersebut memiliki 406 ribu pengguna terdaftar dengan nilai transaksi mencapai Rp22.801 triliun selama Januari hingga September 2026, tumbuh 17 persen YoY.

Perseroan turut menghadirkan Kopra Mobile untuk menjawab kebutuhan nasabah bisnis yang semakin dinamis. Melalui layanan tersebut, nasabah dapat memantau saldo, melakukan transaksi, dan memberikan otorisasi pembayaran melalui perangkat seluler. Fitur keamanan juga dilengkapi verifikasi biometrik Face Recognition serta integrasi Mobile Token.

Sunarto menegaskan, inovasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan keamanan dan keandalan sistem perbankan.

“Bagi kami, layanan digital harus memberikan pengalaman transaksi yang mudah dan nyaman, dengan tetap mengutamakan keamanan serta keandalan sistem. Karena itu, aspek keamanan dan kemudahan penggunaan menjadi bagian penting dalam setiap pengembangan layanan,” ujar Sunarto.

Efisiensi dan Kualitas Aset Topang Pertumbuhan Laba

Pertumbuhan kredit dan peningkatan aktivitas transaksi nasabah turut memperkuat pendapatan Bank Mandiri hingga September 2026. Pendapatan bunga secara bank only tercatat sebesar Rp97,3 triliun, tumbuh 7,08 persen secara tahunan. Sementara itu, pendapatan nonbunga meningkat 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 6,2 persen menjadi Rp61,2 triliun. Dengan capaian tersebut, total pendapatan bank only meningkat 8,54 persen menjadi Rp90,6 triliun.

Pada saat yang sama, perseroan mencatat penurunan biaya operasional sebesar 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun. Efisiensi ini turut tercermin dari rasio cost to income ratio (CIR) yang membaik menjadi 36,1 persen, dibandingkan 43 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Novita menjelaskan, peningkatan pendapatan dari transaksi nasabah menjadi salah satu penopang profitabilitas perseroan. Bank Mandiri juga terus memperkuat efisiensi operasional untuk menjaga kualitas pertumbuhan laba.

“Pendapatan kami terus tumbuh seiring pertumbuhan kredit dan meningkatnya transaksi nasabah. Kami melihat fee-based income menjadi penopang penting untuk menjaga pertumbuhan laba. Semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar pendapatan berulang yang bisa kami bangun. Karena itu, kami terus memperkuat layanan untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan transaksi nasabah. Di saat yang sama, operasional kami juga semakin efisien. Kombinasi ini yang terus kami perkuat agar pertumbuhan laba tetap terjaga,” ujar Novita.

Dari sisi profitabilitas, return on equity (ROE) Bank Mandiri mencapai 23,6 persen, sedangkan return on assets (ROA) tercatat sebesar 2,99 persen. Capaian tersebut menunjukkan penguatan produktivitas bisnis di tengah ekspansi pembiayaan dan pengembangan layanan.

Meski demikian, perseroan tetap menempatkan kualitas aset sebagai salah satu perhatian utama. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto bank only tercatat 0,98 persen per September 2026, membaik dari 1,03 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kualitas portofolio juga ditopang oleh rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah atau NPL coverage ratio sebesar 243 persen. Sementara itu, cost of credit berada di level 0,55 persen dan rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loan (SML) turun menjadi 2,88 persen dari sebelumnya 3,35 persen.

Pada segmen korporasi, NPL tercatat sebesar 0,30 persen, sedangkan NPL kredit ekosistem turunan berada di level 0,90 persen. Perseroan juga mempertahankan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank only sebesar 18,4 persen per September 2026.

Direktur Bank Mandiri Danis menekankan pentingnya pengelolaan risiko dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan kredit.

“Pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin. Dengan pengelolaan tersebut, kami menjaga kualitas portofolio agar Bank Mandiri dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha,” ujar Danis.

Ke depan, Bank Mandiri akan melanjutkan pengembangan pembiayaan berbasis ekosistem, memperluas transaksi nasabah, serta memperkuat layanan digital dan bisnis bullion. Strategi tersebut dijalankan dengan tetap memperhatikan kualitas aset, efisiensi operasional, dan kecukupan modal.

Novita menegaskan, pertumbuhan bisnis perlu memberikan manfaat bagi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari nasabah dan pelaku usaha hingga pemegang saham.

“Fokus kami bukan hanya menjaga pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan setiap ekspansi memberikan nilai tambah bagi nasabah, pelaku usaha, dan pemegang saham. Dengan fundamental keuangan yang sehat serta layanan yang semakin terintegrasi, kami optimistis Bank Mandiri dapat terus mendukung aktivitas ekonomi dan memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat,” tutup Novita.

(tim)

No more pages