Buyback yang sebelumnya diumumkan senilai Rp3,5 triliun setara dengan sekitar 2–3 minggu volume perdagangan normal pada bulan-bulan sebelum Juni, ketika saham turun ke Rp50.
Pada harga Rp50 per saham, nilai buyback tersebut setara dengan 5,6% dari volume perdagangan selama setahun terakhir, dan akan dilaksanakan selama 11 bulan ke depan.
Buyback tersebut akan menyerap sekitar 5,8% saham beredar jika dilakukan pada harga Rp50. Sementara itu, saham GOTO telah merosot ke level Rp28 per saham sampai penutupan perdagangan sesi I, Kamis (1/10/2026).
“Kami akan terkejut jika saham tidak kembali berada di atas Rp50 pada akhir tahun, mengingat faktor buyback, multiple M&A perusahaan sejenis dan tren profitabilitas,” kata Milliken.
Selain itu, manajamen GOTO mengindikasikan bisnis buy now, pay later (BNPL) di Indonesia milik GOTO lebih besar daripada Atome, yang tengah diakuisisi Grab.
Belakangan, Grab tengah dalam proses membayar sektiar 13 kali EBITDA 2028 termasuk sejumlah sinergi untuk mengakuisisi Atome, dalam transaksi yang akan menelan biaya setidaknya US$2,3 miliar.
Adapun, manajemen GoTo memproyeksikan unit fintech menghasilkan sekitar Rp1,4–1,5 triliun adjusted EBITDA pada 2026. Di sisi lain, Deutsche Bank memperkirakan sekitar Rp3 triliun pada 2028.
“Berdasarkan angka tersebut, dan tanpa memperhitungkan sinergi, bisnis tersebut akan bernilai sekitar Rp39 triliun,” kata Milliken.
Deutsche Bank mempertahankan valuasi DCF GOTO sebesar Rp85 per saham. Kendati demikian, bank investasi berbasis di Frankfurt, Jerman itu melihat persaingan di bisnis mobilitas belakangan makin ketat.
“Kami memperkirakan pada pertengahan pekan depan, saham ini akan menjadi investasi yang paling menonjol dalam cakupan perusahaan internet Asia kami untuk perspektif 12 bulan,” kata Milliken.
Setali tiga uang, JP Morgan turut melihat peluang yang besar dari diskon saham GOTO saat ini. JP Morgan menyematkan pandangan overweight dengan target harga Rp68 per saham.
Selepas batas saham gocap dihapus bursa, JP Morgan berpendapat saham GOTO akan menyentuh batas bawah atau downside floor di kisaran Rp25 per saham sampai Rp30 per saham. Menurut tim analis JP Morgan, batas bawah ini menjadi basis yang masuk akal.
Hitung-hitungan batas harga bawah itu berdasar pada kerangka valuasi sum-of-the-parts (SOTP).
JP Morgan melihat tiga komponen yang dapat dinilai dengan tingkat kepastian yang tinggi. Misalkan, nilai kas bersih sebesar Rp13 per saham, net present value (NPV) biaya layanan e-commerce sebesar Rp10 er saham dan nilai mark-to-market kepemilikan GOTO di Bank Jago (ARTO) sebesar Rp3 per saham.
Secara kumulatif, ketiga komponen itu bernilai Rp26 per saham. Basis harga baru itu mengimplikasikan investor memperoleh secara gratis bisnis fintech GOTO yang tumbuh pesat, 25% kepemilikan di TikTok Shop dan bisnis on-demand services (ODS).
“Menurut pandangan kami, aksi jual (sell-off) pada saham GOTO telah membuat valuasinya menjadi lebih menarik,” dikutip dari riset JP Morgan yang disusun Ranjan Sharma, Steven Suntoso, Sigrid Qiu, Alex Yao dan Benny Kurniawan, Kamis (1/10/2026).
Ihwal rancangan buyback, JP Morgan berpendapat program pembelian kembali saham itu dapat sepenuhnya menyerap arus keluar dana pasif pada harga pelaksanaan di bawah Rp30 per saham.
Selepas keluar dari indeks MSCI dan FTSE, arus keluar dana pasif mencapai sekitar 116 miliar saham setelah batas bawah Rp50 dihapus, setara dengan sekitar 10% dari total saham beredar.
Membentuk Fundamental
GOTO berhasil mencetak laba bersih mencapai Rp607 miliar dan pendapatan bersih Rp10,99 triliun sepanjang semester I-2026.
Pendapatan terbesar GOTO disumbang jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun (+16,5%), lalu imbalan jasa Rp3,15 triliun (+14,9%), dan pendapatan pinjaman Rp2,71 triliun (+65%).
Sumbangan pendapatan lain yakni dari pendapatan e-commerce service fee PT Tokopedia Rp551 miliar (+32,3%) dan pendapatan iklan Rp254 miliar (+8%).
Serangkaian restrukturisasi dan pergantian kepemimpinan telah membantu perusahaan membukukan laba kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, bahkan ketika tekanan terhadap laba semakin meningkat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
GOTO, yang didukung oleh Alibaba Group Holding Ltd., pernah menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar yang sempat menembus US$32 miliar tak lama setelah pencatatan sahamnya di Indonesia pada April 2022.
Namun, optimisme terhadap prospek pertumbuhan perusahaan tersebut tidak bertahan lama. Kekhawatiran mengenai jalur GOTO menuju profitabilitas dan disiplin keuangannya meredam antusiasme investor.
Hans Patuwo, yang menjadi CEO GOTO pada akhir tahun lalu setelah adanya dorongan dari sejumlah pemegang saham besar untuk menyingkirkan pendahulunya, telah berjanji untuk membalikkan kondisi perusahaan.
Perusahaan tersebut juga mempertimbangkan reverse stock split sebagai salah satu cara untuk meningkatkan harga saham, setelah mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp3,5 triliun (US$196 juta) serta rencana untuk membatalkan saham treasuri.
“Kami ingin memastikan kondisi makroekonomi sudah tepat sehingga ketika kami menggunakan dana tersebut, dampak yang dihasilkan sesuai dengan yang kami harapkan,” kata Hans.
(naw)






























