Astra kemudian masuk ke United Tractors. Sekitar satu dekade kemudian, Astra masuk ke bisnis keuangan melalui Astra Finance. Perusahaan juga mulai masuk ke manufaktur dan terus mengembangkan bisnis baru.
“Kalau kita lihat hari ini Astra sudah memiliki tiga bisnis inti, yaitu otomotif, jasa keuangan, mining solution and heavy equipment,” kata Tira. Ketiga bisnis tersebut menyumbangkan sekitar 90% laba Astra secara konsolidasi.
Sementara itu, bisnis di luar tiga bisnis inti tersebut mencakup agribisnis, infrastruktur, information technology, dan properti.
Dari Distributor Menjadi Ekosistem Otomotif
Di bisnis otomotif, Astra tidak lagi hanya berperan sebagai importir dan distributor. Perusahaan membangun ekosistem yang mencakup manufaktur, distribusi, penjualan kendaraan hingga mobilitas.
“Teman-teman ya dari dulu-dulu ini tadi yang saya cerita, dari pabrikan, [perakitan], sampai distributor, sampai penjualan retail,” ujar Tira.
Astra juga mengembangkan bisnis kendaraan bekas dan platform perdagangan kendaraan. Menurut Tira, ekosistem tersebut dibangun selama puluhan tahun.
Selain jaringan distribusi dan dealer, Astra juga memiliki kapabilitas manufaktur komponen otomotif.
“Komponen otomotif kami tidak hanya mendukung, bahwa asal kompat tidak hanya memproduksi komponen untuk Astra, tapi bahkan memproduksi komponen untuk otomotif nasional,” jelasnya.
Astra juga mulai mengembangkan komponen untuk kendaraan elektrifikasi.
Menurut Tira, kapabilitas tersebut menjadi fondasi bagi Astra untuk terus mencari ruang pertumbuhan baru di sektor otomotif.
Masuk ke Jasa Keuangan
Diversifikasi Astra kemudian berlanjut ke jasa keuangan. Astra Financial kini memiliki portofolio yang mencakup pembiayaan konsumen, pembiayaan alat berat, digital, fintech, asuransi umum hingga asuransi jiwa.
“Tapi kontributor terbesar saat ini masih tetap berasal dari pembiayaan roda keempat dan roda dua,” kata Tira.
Menurut dia, Astra Financial memiliki basis data pelanggan yang luas, jaringan fisik di seluruh Indonesia, kapabilitas analisis kredit serta kualitas aset pembiayaan yang terjaga.
Kombinasi tersebut menjadi salah satu mesin pertumbuhan Astra sekaligus memperluas ekosistem bisnis perseroan.
United Tractors Bawa Astra ke Komoditas
Diversifikasi Astra kemudian semakin luas melalui United Tractors. Anak usaha tersebut memiliki bisnis yang terintegrasi mulai dari alat berat, kontraktor pertambangan hingga tambang.
“Jadi United Tractors punya tambang-tambang, jadi ada emas, nikel, dan juga bisnis lainnya seperti misalnya energi terbarukan,” ujar Tira.
Menurut dia, kapabilitas United Tractors yang terintegrasi di sektor pertambangan menjadi salah satu kekuatan Astra.
United Tractors tidak hanya memiliki bisnis alat berat, tetapi juga kontraktor pertambangan dengan kapabilitas operasional yang kuat.
“Jadi inilah salah satu the beauty of diversifikasinya Astra yang dibangun sudah sejak lama, dimana Astra akhirnya well-positioned untuk bisa melewati berbagai siklus sektor,” kata Tira.
Diversifikasi Jadi Penyeimbang Saat Rupiah Melemah
Struktur bisnis tersebut juga membuat dampak perubahan nilai tukar terhadap Astra tidak selalu bergerak dalam arah yang sama.
Tira mengatakan pelemahan rupiah cenderung memberikan tekanan terhadap segmen otomotif. Sebab, pelemahan rupiah dapat mempengaruhi harga kendaraan dan daya beli masyarakat.
“Di mana ketika misalnya rupiah itu melemah, biasanya tidak begitu menguntungkan untuk segmen otomotif. Karena harga otomotif biasanya [naik] atau daya berdaya akan melemah,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut dapat memberikan dampak berbeda terhadap bisnis komoditas yang memiliki transaksi dalam dolar AS.
“Tapi pada sektor komoditas itu menguntungkan karena transaksinya dalam harga dolar dan ketika ada transaksi ke rupiah, itu akan cukup besar monetisasi dari paradisi penurunan pada sektor yang lain,” kata Tira.
Dengan demikian, diversifikasi yang dilakukan Astra selama puluhan tahun membuat tekanan dari satu sektor dapat diimbangi oleh kinerja sektor lainnya.
Astra memiliki bisnis yang sensitif terhadap daya beli domestik melalui otomotif dan jasa keuangan, sekaligus memiliki eksposur terhadap komoditas dan dolar AS melalui United Tractors.
Tira mengatakan struktur tersebut menjadi bagian dari kemampuan Astra dalam menghadapi berbagai siklus sektor.
Masih Perluas Portofolio
Di luar tiga bisnis inti, Astra masih memiliki wider businesses yang mencakup agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti. Untuk bisnis-bisnis tersebut, Astra menerapkan tiga pendekatan, yakni investasi, partnership, dan realisasi modal.
“Investasi artinya untuk bisnis-bisnis yang memiliki strategic fit yang memiliki ekosistem Astra, bisa terus memberikan nilai, akan terus berinvestasi,” kata Tira.
Sementara untuk bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan dan membutuhkan penguatan kapabilitas, Astra dapat memilih pendekatan partnership.
“Dan soal bisnis, kami lihat artinya tak ada peluang pertumbuhan yang lebih baik, tentu real estate capital bisa menjadi salah satu partner,” ujarnya.
Menurut Tira, seluruh pendekatan tersebut pada akhirnya ditujukan untuk menjaga kualitas portofolio dan mengoptimalkan alokasi modal.
“Pada intinya teman-teman, semua pendekatan yang dilakukan itu adalah bagaimana [aksesori] bisnis yang lebih berkualitas dan mengoptimalkan alokasi modal kami untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang Astra,” pungkasnya.
(dhf)






























