India dan China memiliki kapasitas kilang minyak raksasa serta daya serap volume ekspor yang sangat tinggi, sehingga sanggup memborong diskon besar lewat kontrak jangka panjang.
“Sebaliknya, Indonesia dengan volume impor yang relatif lebih terbatas dan kapasitas pengolahan yang kurang fleksibel terpaksa membeli minyak mentah maupun BBM olahan di pasar spot dunia dengan harga normal pasaran yang lebih mahal,” terangnya.
Risiko Rentan
Akibatnya, Hadi menyebut, ketahanan ekonomi terhadap risiko lonjakan harga minyak global menjadi sangat rapuh.
Ketika gejolak geopolitik atau krisis pasokan terjadi, beban biaya impor BBM membengkak drastis dan menekan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk menutupi subsidi serta kompensasi energi.
Adapun, dalam konteks ketahanan pasokan fisik BBM, ketidakmampuan bersaing mendapatkan pasokan murah berjangka panjang membuat Indonesia lebih tergantung pada rantai pasok impor biasa yang rentan gangguan geopolitik, seperti penutupan jalur laut utama.
“Lemahnya bargaining power ini saya rasa menekankan pentingnya mempercepat diversifikasi energi juga harusnya bisa mendorong peningkatan produksi kilang dan migas dalam negeri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hadi menjelaskan mekanisme pemenuhan kebutuhan energi nasional yang selama ini bergantung pada impor.
Menurut analisisnya, pemerintah dan badan usaha melakukan impor bahan bakar minyak melalui skema campuran antara kontrak jangka panjang dan pembelian di pasar spot.
“Biasanya, kontrak impor jangka panjang tersebut rata-rata berdurasi satu tahun dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Agak sulit antisipasi kalau tahun selanjutnya ada krisis,” ungkapnya.
Kemampuan Infrastruktur
Dari sisi infrastruktur domestik, Hadi menilai fasilitas kilang milik Pertamina sebenarnya sudah memiliki teknologi pencampuran (blending) yang memadai.
Kilang-kilang tersebut diklaim mampu mengolah dan mengomodasi pasokan minyak mentah di luar kawasan Timur Tengah, dengan catatan tingkat kepengatan (gravity) dan kandungan asamnya masih berada dalam batas toleransi teknis yang wajar.
Meski keberadaan pasokan minyak mentah di pasar internasional selalu tersedia, Hadi menekankan hambatan utama yang dihadapi Indonesia saat ini murni terletak pada tingginya harga komoditas tersebut.
Untuk diketahui, dampak dari krisis ini dirasakan paling parah oleh negara-negara berkembang di Asia Pasifik dan Afrika yang sangat bergantung pada impor energi mentah, seperti Pakistan, Mesir, Bangladesh, dan Filipina.
Di Eropa, beberapa negara seperti Jerman dan Italia yang belum sepenuhnya pulih dari peralihan pasokan energi juga kembali mengalami lonjakan biaya daya produksi industri.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara ihwal nasib kelanjutan impor minyak mentah hingga BBM dari Amerika Serikat (AS) hingga Rusia, di tengah gejolak pasar energi dan krisis BBM yang mulai menjalar di berbagai negara.
Menurut Bahlil, pemerintah dalam melakukan impor akan bertindak secara hati-hati, dengan mempertimbangkan nilai keuntungan dari pembelian komoditas migas yang dilakukan.
Kita cari yang terbaik. Kita cari [minyak] yang lebih murah mana, itu yang kita akan beli.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Dengan begitu, Bahlil menyatakan pemerintah akan mencari komoditas migas dengan harga yang murah untuk dibeli.
“Artinya, barang ada itu penting, tetapi juga harus ekonomis sehingga tidak membebankan APBN kita dan atau tidak membebankan rakyat kita terhadap nilai daripada apa yang kita akan beli,” kata Bahlil kepada awak media di Istana Merdeka, Kamis (17/9/2026).
“Kita cari yang terbaik. Kita cari yang lebih murah mana, itu yang kita akan beli,” ungkap dia.
Adapun, untuk pasokan minyak dari Rusia, Bahlil bakal mengumumkan teknis impor minyak mentah Rusia tahap II pada waktu yang tepat, usai sebelumnya Indonesia mengimpor sekitar 770.000 barel pada tahap pertama.
Dia juga mengklaim ketersediaan minyak mentah Indonesia dalam kondisi yang tercukupi, termasuk berkat pasokan dari Rusia.
“Saya menyampaikan bahwa ketersediaan untuk crude kita insyaallah aman, termasuk bagian daripada Rusia. Nanti yang teknis lainnya dari Rusia, saya akan menjelaskan pada waktu yang tepat,” ujarnya.
Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan Indonesia sedang menyiapkan pendandatanganan kontrak pembelian minyak mentah jangka panjang dari Rusia.
Bahlil menjelaskan langkah tersebut dilakukan usai Indonesia merealisasikan impor minyak mentah tahap I dari Rusia dan sedang mempersiapkan pembelian tahap II.
“Nah, tahap dua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak yang ke [jangka] panjang kok, ya,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (5/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga memastikan impor minyak mentah tahap pertama dari Rusia sudah tiba di Indonesia, tetapi dia menyatakan urusan pemanfaatan minyak mentah tersebut menjadi urusan negara.
Bahlil menegaskan impor minyak mentah tersebut dilakukan oleh negara, melalui Lemigas—bukan dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) PT Pertamina (Persero).
“Ingat ya, yang melakukan pengadaan itu bukan Pertamina ya, negara. Jadi, negara enggak boleh diintervensi oleh negara lain, ya. Ini negara. Jadi, jangan dipeleset-pelesetin,” tegas Bahlil.
“[Pihak] yang melakukan impor adalah negara. Setelah negara ambil, baru negara mau siapkan untuk ke mana untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara; itu urusan negara lah."
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak mentah yang masuk ke kode HS 27090010 (crude petroleum) tercatat sekitar 10,18 juta ton minyak mentah sepanjang Januari—Juli 2026.
Nigeria tercatat menjadi negara pemasok minyak mentah terbesar ke Indonesia pada periode tersebut, mencapai 272 juta ton. Kemudian, Angola menjadi negara kedua pemasok minyak mentah ke Indonesia dengan volume mencapai 1,92 juta ton.
Posisi ketiga terbesar ditempati oleh Arab Saudi, yang telah memasok sekitar 1,5 juta ton minyak mentah sepanjang Januari—Juli 2026 ke Indonesia.
Adapun, harga minyak Brent untuk penyelesaian November turun 0,5% menjadi US$102,56/barel pada pukul 09.51 waktu Singapura hari ini. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 0,4% menjadi US$91,82.
(wdh)






























