Logo Bloomberg Technoz

Donald Trump pada Selasa mengatakan para pejabatnya telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik” dengan utusan Iran di sela-sela pertemuan tingkat tinggi PBB. Namun, dalam pidatonya yang menjadi sorotan di forum tersebut, Trump memperingatkan akan “memusnahkan” Iran kecuali Teheran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

“Inilah yang harus dipahami Trump dan pihak-pihak lain yang ingin menindas kami: kami siap berdialog, tetapi mereka harus memahami bahwa kami tidak akan menerima bahasa kekerasan,” kata Pezeshkian.

Iran diwakili dalam perundingan di New York oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang menyampaikan “posisi tegas” mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, menurut media pemerintah. Syarat Teheran mencakup pencabutan segera blokade angkatan laut AS, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta diakhirinya perang “di semua lini”, lapor IRIB News. Pernyataan terakhir tampaknya merujuk pada kampanye Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

AS dan Israel memulai perang terhadap Iran pada akhir Februari dengan tujuan yang dinyatakan untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Konflik tersebut mengguncang Timur Tengah dan pasar energi serta menyebabkan kebuntuan selama berbulan-bulan, dengan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz sangat terbatas. Pada saat yang sama, kondisi terkini aktivitas nuklir Iran masih belum banyak diketahui.

Pertanyaan mengenai program nuklir Republik Islam Iran tidak akan “diselesaikan di medan perang”, kata Pezeshkian.

Ketika ditanya mengenai kritik Iran terhadap pidato Trump yang tegas di PBB, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Teheran merusak sistem internasional dengan mendukung kelompok-kelompok militan di seluruh Timur Tengah.

“Saya tidak tahu posisi apa yang dimiliki Iran untuk menggurui siapa pun mengenai hak asasi manusia atau sistem internasional ketika mereka secara rutin melanggarnya,” kata Rubio kepada wartawan di New York. “Mereka melanggar kedaulatan setiap negara tetangganya dengan mendukung organisasi teroris yang berada di dalam wilayah negara-negara tersebut. Mereka membantai rakyat mereka sendiri. Mereka melanggar aturan dan sanksi yang diberlakukan oleh komunitas internasional.”

Kehadiran presiden Iran di New York menempatkannya dalam posisi yang tidak biasa, yakni berbicara kepada para pemimpin dunia di wilayah AS ketika Republik Islam Iran sedang berperang dengan Washington. Hal itu memberi Teheran platform penting untuk menyampaikan pandangannya mengenai konflik tersebut. Pezeshkian juga dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan para pemimpin negara lain di New York.

Perundingan AS-Iran secara efektif terhenti sejak Juni, ketika nota kesepahaman yang seharusnya membuka kembali Selat Hormuz dengan cepat runtuh. Pada Rabu, Rubio menyebut perundingan tersebut positif dan sebagai “kelanjutan” dari pembicaraan sebelumnya.

“Saya tidak ingin menggambarkan ini sebagai sebuah terobosan besar, tetapi pada saat yang sama, saya pikir fakta bahwa setidaknya telah terjadi pembicaraan merupakan hal yang signifikan,” katanya.

Iran telah melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan untuk jalur perairan tersebut, yang merupakan titik transit penting bagi pasokan energi global. Salah satu persoalan yang masih mengganjal adalah dorongan Teheran untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintas, sebuah gagasan yang ditentang AS dan negara-negara Teluk.

Program nuklir Iran menjadi persoalan utama lainnya dalam setiap kemungkinan perundingan. Teheran menyatakan aktivitas nuklirnya bertujuan damai, sementara Washington menginginkan pembatasan terhadap program tersebut sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.

(bbn)

No more pages