Logo Bloomberg Technoz

Inggris sebelumnya bergabung dengan AS dalam melancarkan serangan terhadap Houthi pada awal 2024 karena ancaman kelompok tersebut terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah bagian selatan dan Selat Bab el-Mandeb.

London akan mengajak negara-negara lain untuk membantu Arab Saudi menghadapi Houthi, menurut sejumlah orang yang mengetahui masalah tersebut. Mereka meminta identitasnya tidak disebutkan karena membahas hal-hal sensitif. Salah satu sumber mengatakan pemerintahan Burnham menilai membantu militer Saudi dan menekan Houthi akan membantu menstabilkan kawasan serta mengamankan Bab el-Mandeb, jalur perairan penting bagi kapal kontainer dan kapal pengangkut energi.

Negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G-7), yang juga mencakup Inggris, pada Senin (21/9) mengatakan kemajuan pasukan Houthi di darat baru-baru ini di Yaman, tempat kelompok tersebut bermarkas, merupakan ancaman terhadap pelayaran global.

Bulan ini, ketika Houthi meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan merebut lebih banyak wilayah di Yaman, Riyadh meminta dukungan militer dari AS dan Inggris.

Sejauh ini, Washington yang ingin mengakhiri perang dengan Iran dan menghindari peningkatan ketegangan di berbagai front belum menyatakan akan membantu Saudi di luar dukungan intelijen yang telah diberikan. Namun, New York Times melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serangan gabungan dengan Saudi terhadap Houthi dalam beberapa hari terakhir.

Trump dijadwalkan bertemu dengan para pejabat dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), blok yang mencakup Arab Saudi, di New York pada Selasa. Perang dengan Iran menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut.

Pekan lalu, Departemen Luar Negeri AS secara resmi memberi tahu Kongres mengenai rencana untuk memasok hampir 50 jet tempur F-35 kepada Saudi, meskipun pengiriman pesawat tersebut ke kerajaan diperkirakan dapat memakan waktu bertahun-tahun.

Pemerintah Arab Saudi, yang dihubungi setelah jam kerja pada Senin, mengatakan pihaknya sedang meninjau permintaan komentar Bloomberg.

Arab Saudi telah menghadapi beberapa serangan rudal dan drone Houthi bulan ini, dengan kelompok tersebut menargetkan kota-kota di bagian selatan, pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah, serta infrastruktur energi. Pada Sabtu, otoritas Saudi mengeluarkan dua peringatan serangan udara pada dini hari untuk Riyadh, yang merupakan peringatan pertama bagi ibu kota tersebut dalam beberapa bulan. Salah satu serangan menghantam fasilitas bahan bakar di bandara utama, menurut Wall Street Journal.

Koalisi pimpinan Arab Saudi telah beberapa kali menyerang wilayah Yaman sebagai balasan, sementara Houthi menyebut banyak warga sipil menjadi korban.

Houthi, yang menguasai wilayah tempat sebagian besar penduduk Yaman tinggal, baru-baru ini merebut pelabuhan Mokha dan sejumlah pulau di dekat Selat Bab el-Mandeb. Kelompok tersebut sebelumnya telah mengganggu pelayaran melalui jalur sempit strategis itu, sementara tambahan wilayah yang dikuasainya semakin memperkuat kendali atas kawasan tersebut.

Serangan Houthi terhadap Arab Saudi serta serangan drone yang menghentikan operasi jaringan pipa minyak paling penting di kerajaan tersebut telah mendorong harga energi naik, dengan minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$100 per barel. Pemerintah Saudi mengatakan serangan terhadap jaringan pipa tersebut berasal dari Irak, tempat banyak milisi yang didukung Iran bermarkas.

Pada 2024, di bawah pemerintahan mantan Perdana Menteri Inggris dari Partai Konservatif Rishi Sunak, militer Inggris menyerang target Houthi di Yaman, yang saat itu didukung oleh pemimpin oposisi dari Partai Buruh, Keir Starmer. Setelah menjadi perdana menteri, Starmer kemudian mengerahkan aset militer ke Arab Saudi dan pada Maret, sistem pertahanan udara Sky Sabre Inggris diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan negara tersebut, termasuk radar, pusat kendali, dan peluncur rudal.

(bbn)

No more pages