“Risikonya adalah ini hanyalah perdagangan likuiditas makro yang menyamar sebagai perdagangan kripto. Jika demikian, gejolak pada aset berisiko akan memberikan tekanan signifikan pada Bitcoin.”
Aset digital telah mengabaikan kegagalan undang-undang penting AS pekan lalu yang seharusnya menetapkan regulasi industri yang lebih jelas, serta kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve dalam lebih dari tiga tahun.
Lampu hijau pada hari Kamis dari Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) bagi sekuritas berbasis blockchain untuk mulai diperdagangkan di AS mencerahkan suasana, sehingga membuat token terkait melonjak.
Penurunan harga minyak dan optimisme menjelang pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah mengangkat sentimen pasar secara luas.
Likuidasi posisi long dan short di seluruh aset digital telah melonjak hingga lebih dari US$1 miliar dalam 24 jam terakhir, dengan posisi short menyumbang sekitar US$840 juta dari jumlah tersebut, menurut data yang dikumpulkan oleh Coinglass.
“Sepertinya ini lebih didorong oleh mekanisme pasar daripada keyakinan. Bitcoin menembus batas atas rentang harganya di bulan September dan memasuki zona padat level likuidasi posisi short, dan pembelian paksa yang menggerakkan sisanya,” kata Rachael Lucas, seorang analis di BTC Markets.
“US$84.000 adalah level yang penting. Level tersebut merupakan titik terobosan, dan sekarang seharusnya bertahan sebagai batas bawah jika ini merupakan perubahan tren, bukan sekadar short squeeze.”
Open interest Bitcoin di platform Deribit sangat didominasi oleh kontrak call, yang menandakan sentimen bullish. Platform tersebut mencatat hampir 320.000 kontrak untuk hak membeli token tersebut, dibandingkan dengan lebih dari 169.000 kontrak put, atau hak untuk menjual.
Faktor positif lain yang mengangkat sentimen seputar Bitcoin adalah arus masuk besar-besaran ke dalam dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) spot AS pada akhir pekan lalu dan Strategy Inc. milik Michael Saylor — pemegang Bitcoin korporat terbesar — yang membeli token tersebut untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.
Namun, tantangan tetap ada, dengan harga minyak mentah di sekitar US$100 per barel dan imbal hasil obligasi Treasury AS yang masih tinggi, meski sedang turun.
Bitcoin masih berada di bawah level tertinggi tahun 2026 sebesar lebih dari US$97.000 yang dicapai pada pertengahan Januari, dan antusiasme investor ritel terbukti sulit untuk dihidupkan kembali karena saham-saham kecerdasan buatan (AI) serta instrumen investasi lain yang terkait AI bersaing memperebutkan modal spekulatif yang sama.
“Sepanjang sebagian besar tahun ini, kripto menjadi instrumen perdagangan makro yang terlupakan; kinerjanya tertinggal dari saham dan emas sementara modal serta perhatian beralih ke AI,” kata Rosenblum.
“Yang berubah adalah posisi pasar, bukan fundamental: Bitcoin kurang diminati dan cenderung dijual pendek.”
(bbn)






























