Posisi jual itu terjadi seiring dengan kabar lobi-lobi ambil alih perusahaan yang kini sedang berlangsung bersama dengan bos Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Aksi jual investor asing itu juga dibayangi distribusi besar-besaran sebagian pialang institusi lokal.
Broker afiliasi Garibaldi ‘Boy’ Thohir PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) menjual 28 ribu lot saham BYAN dengan valuasi Rp40 miliar di harga rata-rata Rp14.722 selama satu bulan terakhir.
Selanjutnya, Maybank Sekuritas (ZP) dan CGS International (YU) masing-masing melepas 22,2 ribu lot saham dan 19,9 ribu lot saham. Valuasi divestasi ZP sekitar Rp33 miliar dan YU sekitar Rp30,5 miliar.
Sementara itu, DBS Vickers Sekuritas (DP) menjual 6,7 ribu lot saham BYAN dengan valuasi Rp10,7 miliar di harga rata-rata Rp15.510.
Selepas aksi jual besar-besaran itu, kapitalisasi pasar saham BYAN kini tersisa Rp350,83 triliun. Jumlah saham beredar BYAN sekitar 33,33 miliar lembar dengan free float 21,29%.
Mayoritas saham BYAN kini dipegang Low Tuck Kwong sekitar 40,25% dan 22% saham lainnya dikuasai putrinya, Elaine Low.
Force Majeure
Sebelumnya, BYAN mengungkap tiga anak usahanya mengalami kondisi kahar atau force majeure yang berdampak terhadap pemenuhan kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan.
Tiga anak usaha tersebut yakni PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP). Ketiganya menyampaikan kondisi kahar kepada para pelanggan pada 11 September 2026.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/9/2026), manajemen BYAN menyebut kondisi tersebut terjadi karena persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum diterbitkan kepada ketiga anak usaha tersebut.
Perseroan menyebut permohonan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Kondisi tersebut saat ini memengaruhi kemampuan perseroan dan anak-anak usahanya untuk memenuhi kewajiban kepada pelanggan.
“Namun dengan dilakukannya pemberitahuan keadaan/kejadian yang bersifat memaksa (Keadaan Kahar/Force Majeure) ini, diharapkan dapat meminimalisir risiko dan/atau konsekuensi bagi Perseroan dan anak-anak perusahaannya,” tulis manajemen.
Keadaan kahar itu terjadi seiring dengan diskusi yang tengah berlangsung antara pengendali BYAN Low Tuck Kwong dengan bos Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam ihwal pengambil alihan mayoritas saham perusahaan tambang batu bara tersebut.
Mengutip laporan Bloomberg News, Haji Isam menawar sekitar US$3 miliar secara tunai untuk membeli 62% saham Bayan Resources yang berbasis di Jakarta.
Sebagian pembayaran kemungkinan akan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, kata beberapa sumber. Jika transaksi terjadi pada harga tersebut, nilainya akan mencerminkan diskon sekitar 80% terhadap level harga pasar saat ini.
Porsi saham mayoritas milik keluarga tersebut kemungkinan akan dijual dengan diskon besar karena jumlah saham beredar (free float) Bayan yang terbatas dan volume perdagangan yang tipis dapat membuat harga saham yang tercatat di pasar menjadi lebih tinggi dari nilai wajarnya.
Prospek jangka panjang batu bara termal juga suram seiring konsumen beralih ke energi yang lebih bersih. Selain itu, pemerintah Indonesia telah memberlakukan kuota produksi batu bara yang telah membatasi aktivitas para pemain tambang domestik.
Pembicaraan mengenai penjualan masih berlangsung dan belum ada jaminan kesepakatan akan tercapai, menurut sumber-sumber tersebut.
Prabowo telah memangkas kuota produksi sejumlah produsen terbesar di Indonesia dalam upaya mendorong kenaikan harga batu bara. Perusahaan lain juga terkena denda besar akibat pelanggaran izin kehutanan.
Bayan termasuk perusahaan yang paling terdampak oleh pemangkasan kuota tersebut, menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini. Para pesaing, termasuk PT Bumi Resources dan PT Adaro Andalan, sebagian besar terhindar dari pemangkasan besar produksi, Bloomberg melaporkan pada Februari.
Low lahir di Singapura dan pindah ke Indonesia ketika berusia awal 20-an. Ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada 1992 dan mendirikan Bayan Resources pada 2004.
Menurut Bloomberg Billionaires Index, sebagian besar kekayaannya berasal dari perusahaan tambang batu bara yang tercatat di bursa tersebut. Aset utamanya yang lain termasuk 78% saham perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura, Metis Energy Ltd.
Jika seluruh pihak menyepakati persyaratan transaksi, kesepakatan tersebut dapat rampung sebelum akhir tahun, kata salah satu sumber. Isam kemungkinan akan memperoleh pendanaan dari bank-bank milik negara Indonesia, kata sumber lainnya.
Bayan Resources juga mengoperasikan sejumlah pelabuhan di Indonesia. Perusahaan tersebut menjual sekitar 68 juta metrik ton batu bara tahun lalu, ketika membukukan pendapatan sekitar US$3,4 miliar.
(naw)



























