Hal itu menempatkan Warsh pada jalur pergesekan dengan Trump yang berulang kali mendesak bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Trump baru-baru ini mengancam akan meningkatkan eskalasi perang dagangnya jika kebijakan moneter tidak dilonggarkan, dan pada Minggu ia kembali menegaskan argumennya bahwa biaya pinjaman AS seharusnya menjadi yang terendah di dunia.
Ketika ditanya apakah dia memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang, Trump menjawab: “Saya tidak tahu.”
Desakan untuk kebijakan yang lebih longgar semakin diperkuat oleh ketegangan politik di dalam Gedung Putih. Jelang pemilihan tengah masa jabatan, jajak pendapat mempertontonkan meningkatnya ketidakpuasan pemilih atas kenaikan biaya hidup. Suku bunga yang lebih rendah — meskipun butuh waktu berbulan-bulan untuk tercermin dalam tagihan hipotek atau kartu kredit di dunia nyata — dapat memberikan alasan bagi Trump untuk memberi sinyal bahwa bantuan ekonomi sedang dalam perjalanan, dan mengalihkan kesalahan dari pemerintahannya.
Dinamika tersebut membuat Warsh terjebak dalam pengaruh institusional hanya beberapa minggu sebelum para pemilih menuju tempat pemungutan suara.
“Mereka benar-benar berada dalam situasi yang sulit di mana mereka harus menghadapi kemarahan presiden atau merusak kredibilitas mereka di pasar, dengan konsekuensi terhadap inflasi yang kemungkinan akan lebih parah di masa mendatang,” kata Maurice Obstfeld, peneliti senior di Peterson Institute for International Economics dan mantan kepala ekonom di IMF.
“Saya rasa Warsh tidak ingin dikenang sebagai Gubernur Fed yang menyerah pada tekanan pemerintah ketika mandat Fed sedang dipertaruhkan.”
Sejak laporan inflasi terbaru dirilis, satu pejabat Gedung Putih telah memberikan sinyal yang ambigu mengenai bagaimana presiden mungkin bereaksi terhadap kenaikan suku bunga.
Pada hari Jumat, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa Trump masih menginginkan suku bunga turun dan, jika Fed menaikkan suku bunga, “Presiden akan memiliki pendapat mengenai hal itu.”
Pada hari Minggu, Hassett sedikit melunakkan pernyataannya.
“Jika terjadi kenaikan suku bunga, maka presiden — saya yakin dia tidak akan terlalu senang dengan hal itu, tetapi dia akan membela kemandirian Kevin Warsh di atas segalanya,” katanya dalam acara Fox News Sunday.
Serangan ke Powell
Jika melihat dari pendahulu Warsh, ia mungkin akan menghadapi masalah. Gubernur Fed pertama di era Trump, Jerome Powell, dilantik pada awal Februari 2018, dan pada Juli tahun yang sama presiden sudah secara terbuka mengkritiknya karena menaikkan suku bunga. Serangan-serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pun berlanjut selama bertahun-tahun.
Namun, Powell tetap mempertahankan sikap yang jaga jarak dan formal terhadap Gedung Putih. Sebaliknya, Warsh berbicara secara informal dengan Trump beberapa kali sejak menjabat. Beberapa pengamat The Fed percaya bahwa, meskipun bank sentral melanjutkan putaran kenaikan suku bunga baru, Warsh dapat menenangkan Trump dengan mengandalkan hubungan pribadinya dengan presiden.
“Ia bisa memuji presiden melalui telepon, mendengarkannya, dan memberi ruang baginya untuk menyampaikan pendapat,” kata Michael Redmond, ekonom AS di firma konsultan Energy Aspects. “Mungkin tekanan terhadap Warsh tidak terlalu berat.”
Namun, Warsh sedang menapaki jalan berliku dengan Gedung Putih yang telah memberikan tekanan hebat kepada bank sentral, dan bukan hanya melalui serangan verbal.
Trump telah mencoba — dalam upaya yang sejauh ini telah diblokir oleh Mahkamah Agung — untuk memecat Gubernur Fed Lisa Cook. Dan Departemen Kehakiman AS melakukan penyelidikan pidana terhadap Powell atas tuduhan penipuan terkait rekonstruksi markas besar Fed. Penyelidikan tersebut dibatalkan setelah anggota parlemen dari kedua partai mengajukan keberatan dan seorang hakim federal menggambarkan penyelidikan tersebut sebagai penyalahgunaan kekuasaan.
“Warsh tidak bisa menang secara politik saat ini. Jika dia menaikkan suku bunga, dia akan mendapat cuitan, dan jika dia mempertahankan suku bunga, dia akan mendapat reaksi negatif” dari pasar, jelas kata Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal Credit Union.
Perusahaan-perusahaan besar di Wall Street, termasuk TD Bank dan JPMorgan Chase & Co., dengan cepat merevisi proyeksi mereka setelah laporan inflasi Jumat lalu, mengantisipasi kenaikan suku bunga pekan ini.
“Sinyal pasar yang tanpa filter sangat jelas: Investor menginginkan dan mengharapkan FOMC menaikkan suku bunga. Jika The Fed tidak menaikkan suku bunga, Warsh akan kehilangan kredibilitas di mata para pelaku pasar,” kata Anna Wong dan Andrew Sacher, ekonom Bloomberg Economics.
Patrick Harker, mantan Gubernur Fed Philadelphia yang kini mengajar di Wharton School, Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga justru dapat, secara kontra intuitif, mendukung tujuan ekonomi yang lebih luas, yaitu kekhawatiran terhadap inflasi. Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang, sehingga membuat pinjaman hipotek dan pinjaman korporasi menjadi lebih mahal.
“Dengan menaikkan suku bunga, hal tersebut menandakan bahwa The Fed sedang menjalankan tugasnya. Hal itu mungkin membantu apa yang sedang diupayakan oleh pemerintah, bukan merugikannya,” urai Harker.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun naik secara signifikan pada 29 Juli ketika The Fed mempertahankan suku bunga dan Warsh gagal menjelaskan langkah tersebut secara memuaskan kepada para investor.
(bbn)































