Logo Bloomberg Technoz

“Kenaikan harga itu bisa setiap kali naik 5%-10%, dan itu bisa terjadi berkali-kali. Bisa jadi nantinya harganya double dari harga sekarang,” sebutnya.

Ardy melanjutkan, dampak kenaikan harga tersebut mulai terlihat pada harga smartphone di pasar. Produk yang sebelumnya berada di kisaran Rp3 jutaan, menurut dia, berpotensi mengalami kenaikan hingga Rp5 juta-Rp7 juta akibat mahalnya komponen memori.

“Makanya kalau kita lihat sekarang, khususnya untuk handphone, produk di harga Rp3 jutaan itu mungkin sudah jarang. Semua mengalami kenaikan harga, yang tadinya Rp3 juta bisa naik menjadi Rp5 juta atau Rp7 juta,” ujar Ardy.

Dia menilai kenaikan harga paling terasa pada smartphone dengan harga di bawah Rp3 juta, termasuk produk dari sejumlah merek China. Kata dia, mahalnya memori membuat produsen semakin sulit mempertahankan harga jual di segmen tersebut.

“Paling terasa itu merek China, yaitu brand yang harganya di bawah Rp3 juta. Dengan memori yang mahal, tidak mungkin lagi mereka menjual di harga yang dulu,” bebernya.

Sharp Ikut Menaikkan Harga?

Ardy mengakui, Sharp telah menaikkan harga smartphone sebagai dampak kenaikan biaya komponen. Ia mencontohkan harga smartphone AQUOS10 yang saat ini telah berada di kisaran Rp6 juta-Rp7 juta di marketplace, dibandingkan sekitar Rp5 jutaan pada tahun sebelumnya.

“Sudah, sudah naik. Makanya kenaikan harga membuat, kalau bisa dilihat di marketplace atau di mana, kenaikan harga mulai terasa,” ujar dia.

Ardy memperkirakan bahwa tekanan harga smartphone belum akan berakhir. Kenaikan harga bahkan dinilai masih dapat berlanjut hingga 2027. Hal ini terjadi lantaran kebutuhan memori terus meningkat seiring berkembangnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Ada, terus sampai tahun depan juga akan naik. Karena semakin banyak orang menggunakan AI, semakin membutuhkan memori yang besar,” jelasnya, dan keterbatasan pasokan memori menjadi faktor lain yang membuat harga sulit turun. Permintaan memori meningkat karena kebutuhan komputasi AI, sementara pasokannya masih terbatas.

Sharp tidak dapat mengendalikan harga komponen tersebut karena perusahaan tidak memproduksi RAM maupun memori sendiri. Dengan demikian, perubahan harga produk akan mengikuti kondisi pasokan dan harga komponen di pasar, lanjut Ardy.

“Kita mengikuti saja, karena kita kan tidak memproduksi RAM, jadi tergantung dari suplai. Kalau suplai naik terus, ya kita ikut naik terus,” tutu

Harga TV Naik Bertahap

Tekanan harga komponen juga terjadi pada produk televisi produksi Sharp. Namun, kenaikannya disebut lebih bertahap dibandingkan memori smartphone.

Menurut Ardy, harga TV mengalami kenaikan sekitar 3%-5% setiap tiga bulan. Kenaikan tersebut juga masih berpotensi berlanjut pada tahun depan mengikuti perkembangan harga komponen.

“Bulan depan kita akan naik [harga] TV. Tahun depan juga mungkin kita naikkan TV lagi,” ujar Ardy.

Menurut dia, Sharp tidak dapat mengatasi kenaikan harga hanya dengan mengurangi kapasitas memori pada perangkat. Khususnya pada smart TV, kebutuhan memori justru terus meningkat karena semakin banyak aplikasi dan fitur yang harus dijalankan.

“Tidak mungkin. Karena memori itu, apalagi TV smart, juga membutuhkan memori yang besar. Aplikasi makin bertambah, jadi tidak mungkin kita mengurangi memori,” ujarnya. Dengan demikian, Sharp memilih menyesuaikan harga produk sembari memberikan nilai tambah kepada konsumen melalui layanan dan pengalaman penggunaan.

(mef/wep)

No more pages

Baca Juga