Bagaimana isu tarif membayangi pasar tembaga?
Kekhawatiran bahwa Presiden Donald Trump akan memberlakukan bea masuk impor tembaga mendorong harga di AS melampaui patokan global yang ditetapkan di London pada paruh pertama tahun lalu.
Selisih harga (premium) New York terhadap London sangat menguntungkan, sehingga perusahaan perdagangan seperti Mercuria Energy Group Ltd dan Trafigura Group berlomba-lomba mengimpor tembaga ke AS.
Setelah penyelidikan mengenai dampak impor terhadap keamanan nasional, Departemen Perdagangan AS merekomendasikan tarif sebesar 15% untuk tembaga olahan mulai 2027, yang akan naik menjadi 30% pada 2028.
Namun, Trump memutuskan untuk tidak mengenakan bea masuk pada logam olahan dalam kebijakan yang diumumkannya tahun lalu. Sebaliknya, dia menetapkan pungutan 50% pada produk tembaga setengah jadi—seperti pipa dan kabel—serta produk turunan, yang mencakup komponen listrik.
Dia memang memerintahkan Departemen Perdagangan untuk meninjau kembali—paling lambat akhir Juni tahun ini—apakah tarif tembaga olahan masih diperlukan. Tenggat waktu tersebut berlalu tanpa adanya pengumuman dari Gedung Putih.
Kemungkinan penerapan tarif yang terus membayangi telah mempertahankan selisih harga yang menguntungkan antara New York dan London, sehingga arus pasokan tembaga ke pelabuhan-pelabuhan AS terus berlanjut.
Hal ini berdampak pada berkurangnya cadangan di tempat lain, khususnya di gudang-gudang LME yang menjadi landasan bagi kontrak acuan global.
Apa yang terjadi di pasar London?
Harga spot LME melonjak melampaui harga kontrak berjangka karena para pembeli bersaing memperebutkan pasokan tembaga yang kian menipis di jaringan gudang bursa tersebut.
Pada pertengahan Agustus, selisih harga antara transaksi tunai dan kontrak pengiriman tiga bulan ke depan sempat menembus angka US$500—level tertinggi sejak peristiwa kelangkaan pasokan pasar yang ekstrem (market squeeze) pada tahun 2021.
Para trader memanfaatkan lonjakan harga spot ini dengan mengirimkan pasokan dalam jumlah besar ke gudang-gudang LME, sehingga sempat sedikit meredakan ketatnya pasokan. Namun, adanya pesanan besar untuk menarik keluar tambahan logam pada akhir Agustus kembali menyeret tingkat persediaan yang tersedia ke level yang sangat rendah dan mengkhawatirkan.
Berapa banyak tembaga yang telah dikumpulkan AS sejauh ini?
Per awal September, jumlah persediaan resmi di Comex tercatat delapan lebih tinggi dibandingkan awal tahun lalu, dengan total simpanan melebihi 750.000 short ton (680.389 metrik ton).
Jika stok logam yang tersimpan di gudang di luar bursa resmi turut diperhitungkan, total cadangan tembaga AS diperkirakan jauh melampaui 1 juta metrik ton. Jumlah ini kira-kira setara dengan produksi tahunan tambang tembaga terbesar di dunia, Escondida di Cili.
Apa yang mungkin terjadi pada cadangan tembaga raksasa AS tersebut?
Keputusan untuk menerapkan tarif atas tembaga olahan kemungkinan besar akan memicu lonjakan pengiriman terakhir ke AS sebelum kebijakan tersebut berlaku. Sebaliknya, pembatalan usulan tarif akan memicu pembalikan arus perdagangan, di mana para trader akan melepas posisi yang telah mereka akumulasi selama 18 bulan terakhir.
Sekalipun tarif tidak jadi diterapkan, sejumlah analis dan trader memperkirakan cadangan tembaga yang besar akan tetap bertahan di AS. Hal ini didorong oleh upaya perusahaan dan pemerintah untuk melindungi basis manufaktur dalam negeri dari risiko kelangkaan pasokan, volatilitas harga, serta ketergantungan pada impor dari China.
Sentimen tersebut diperkuat oleh rencana pemerintahan Trump untuk membentuk cadangan mineral strategis senilai US$12 miliar—dikenal sebagai "Project Vault"—melalui skema kemitraan pemerintah dan swasta.
Belum jelas seberapa besar porsi tembaga dalam Project Vault ini, padahal tembaga merupakan salah satu dari 60 jenis mineral yang dikategorikan sebagai mineral "kritis" oleh pemerintah AS dan berisiko mengalami gangguan rantai pasok.
Apakah lonjakan harga tembaga ini berkelanjutan?
Para analis dari Societe Generale SA menilai bahwa kebijakan perdagangan AS dan arbitrase akibat tarif akan terus memengaruhi harga tembaga, sementara arus pasokan ke pasar AS memperketat ketersediaan fisik di wilayah lain.
Meski harga tinggi dapat mendorong pengguna tembaga mencari alternatif yang lebih murah, tekanan dari sisi permintaan sejauh ini tidak banyak menghambat kenaikan harga tembaga.
Selain ketidakpastian tarif, prospek jangka panjang tembaga juga didukung oleh permintaan baru yang muncul akibat transisi ke energi bersih. Logam merah ini sangat penting untuk panel surya, turbin angin, kendaraan listrik, dan jaringan listrik.
Tembaga juga sangat penting bagi pusat data dan infrastruktur listrik yang diperlukan untuk menjaga fasilitas-fasilitas ini tetap beroperasi.
Seiring dengan meningkatnya permintaan tembaga, masih belum pasti apakah pasokannya akan mencukupi di tengah serangkaian gangguan penambangan yang melanda dari Cili hingga Indonesia, serta kesulitan dalam membangun tambang baru dan memperluas operasi yang sudah ada.
Produksi tambang global tahunan berpotensi turun untuk pertama kalinya sejak 2017 kecuali jika produksi pulih pada paruh kedua tahun ini.
Deposit tembaga baru semakin sulit dan mahal untuk diekstraksi seiring dengan menurunnya kadar bijih—berarti lebih banyak material yang harus diproses untuk mengekstraksi logam dalam jumlah yang sama.
Meningkatnya pengawasan terhadap dampak lingkungan dari penambangan tembaga juga membuat pengembangan proyek baru menjadi lebih menantang secara politis dan mahal.
Waktu rata-rata yang dibutuhkan tambang untuk berkembang dari tahap penemuan hingga produksi adalah lebih dari 15 tahun, menurut S&P Global. Kecuali jika tambang-tambang baru mulai beroperasi, pasar tembaga akan menghadapi defisit pasokan yang semakin besar pada dekade berikutnya, sehingga menyebabkan harga lebih tinggi.
Pasokan tambang yang ketat mendorong China—konsumen tembaga terbesar di dunia—untuk mengimpor lebih banyak logam olahan pada awal tahun ini karena pabrik peleburannya menghadapi kekurangan konsentrat tembaga untuk diproses, serta kurangnya bahan bekas.
Hal ini menambah momentum kenaikan harga akibat potensi tarif AS. Ke depan, permintaan tembaga China diperkirakan akan meningkat seiring pasar memasuki musim puncak produksi.
(bbn)






























