Dia menyoroti adanya "peningkatan masif" dalam pengadaan energi surya fotovoltaik di berbagai negara Asia—baik yang kecil maupun besar—selama setahun terakhir.
Selain itu, pergeseran ke arah EV di berbagai pasar, termasuk pasar kecil seperti Nepal, menjadi bukti bahwa keterkaitan antara kedua target tersebut kini semakin dipahami oleh para pembuat kebijakan.
"Baru setahun lalu, investasi di sektor energi mencapai sekitar US$3 triliun: US$2 triliun untuk energi bersih dan US$1 triliun untuk bahan bakar fosil," kata Tharakan, seraya menegaskan bahwa bahkan di tengah penurunan permintaan akibat pandemi, dunia tetap melanjutkan investasi pada energi bersih.
Menurut data S&P Global Energy, emisi di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan akan meningkat dari 26,96 miliar metrik ton setara CO2 (mtCO2e) pada 2026 (berdasarkan skenario dasar) menjadi 27,19 miliar mtCO2e pada 2030.
(ros)
































