Logo Bloomberg Technoz

Catatan sejarah juga menunjukkan adanya aktivitas pada 1680. Saat itu, pelaut Belanda melaporkan melihat Krakatau meletus dan menemukan bongkahan batu apung di laut. Bukti berupa aliran lava dari periode tersebut kemudian ditemukan oleh peneliti pada abad ke-19.

  1. Letusan Berlangsung Selama Berbulan-bulan

Aktivitas Krakatau pada 1883 tidak terjadi hanya dalam satu kali ledakan. Rangkaian erupsi telah berlangsung beberapa bulan sebelum mencapai fase paling dahsyat pada akhir Agustus.

Pada Mei 1883, Krakatau mulai menyemburkan abu dan uap hingga sekitar 6 kilometer ke udara. Ledakannya begitu kuat hingga suara letusan dapat terdengar dari jarak hampir 160 kilometer.

Memasuki Juni, aktivitas vulkanik semakin intensif. Abu dalam jumlah besar membentuk awan hitam tebal yang bertahan selama beberapa hari di atas gunung. Kondisi laut di sekitar kawasan tersebut juga mulai berubah dan kapal-kapal melaporkan keberadaan batu apung yang mengambang di lautan.

Puncak erupsi terjadi pada 25 hingga 27 Agustus 1883. Dalam periode inilah kehancuran terbesar terjadi dan jumlah korban jiwa mencapai sekitar 36.000 orang.

  1. Penelitian Rogier Verbeek Menjadi Catatan Penting

Rangkaian kehancuran Krakatau kemudian diteliti secara lebih mendalam oleh Rogier Verbeek, seorang ahli geologi Belanda yang telah lama mempelajari kondisi geologi di Jawa.

Setelah erupsi berakhir, Verbeek mendatangi sejumlah wilayah yang terdampak. Ia mengumpulkan kesaksian dari masyarakat yang selamat sekaligus mendokumentasikan kondisi kawasan setelah bencana.

Hasil penelitiannya kemudian dituangkan dalam laporan sekitar 550 halaman yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda pada 1885. Dokumentasi tersebut menjadi salah satu sumber penting dalam perkembangan studi vulkanologi modern.

  1. Suara Letusan Terdengar hingga Ribuan Kilometer

Salah satu hal paling luar biasa dari erupsi Krakatau adalah kekuatan suara yang dihasilkan. Ledakan pada fase akhir erupsi, sekitar pukul 10.02 pagi pada 27 Agustus 1883, tercatat sebagai salah satu suara letusan paling keras yang pernah didokumentasikan.

Dentuman tersebut bahkan terdengar hingga wilayah Australia Barat dan Mauritius yang berjarak ribuan kilometer dari Krakatau.

Dampak suara tidak berhenti setelah ledakan terjadi. Gelombang tekanan atmosfer yang dihasilkan letusan tercatat mengelilingi dunia hingga tujuh kali dalam lima hari berikutnya.

  1. Tsunami Raksasa Menghantam Pesisir

Letusan Gunung Krakatau dan Tsunami Indonesia pada 1883 (Dok. Leiden University Libraries)

Letusan Krakatau juga memicu tsunami besar yang menjadi salah satu penyebab utama tingginya jumlah korban. Ledakan dan runtuhnya bagian gunung ke laut menghasilkan gelombang yang diperkirakan mencapai sekitar 40 meter.

Tsunami tersebut menghantam wilayah di sepanjang Selat Sunda dan menghancurkan hingga sekitar 300 desa. Dampaknya bahkan terasa terhadap kapal-kapal yang berada jauh dari pusat letusan, hingga mencapai kawasan Afrika Selatan.

Salah satu kisah yang tercatat berasal dari kapal Gouverneur Generaal Loudon. Kapal yang sedang menuju Teluk Betung tersebut menghadapi kondisi laut yang sangat berbahaya ketika letusan dan tsunami terjadi.

Kapten Johan Lindemann mengambil keputusan untuk mengarahkan kapal menghadapi gelombang tsunami, bukan sekadar mencoba mencari perlindungan di pelabuhan. Keputusan tersebut disebut berhasil menyelamatkan penumpang dan awak kapal.

Awan Panas hingga Dampak Global

  1. Awan Panas Menjadi Ancaman Mematikan

Selain tsunami, awan panas atau aliran piroklastik turut menyebabkan banyak korban jiwa. Material ini terdiri atas campuran abu vulkanik, batu apung, gas bersuhu tinggi, serta material vulkanik lain yang bergerak dengan kecepatan tinggi.

Kondisi Krakatau yang berada di sebuah pulau tidak membuat ancaman tersebut terbatas di daratan. Awan panas dapat bergerak melintasi laut dengan bantuan uap yang sangat panas sebelum mencapai pulau-pulau dan garis pantai di sekitarnya.

Diperkirakan sekitar 4.000 orang meninggal akibat terjangan awan panas. Material panas tersebut mampu menyapu kawasan daratan hingga beberapa kilometer dari sumber letusan.

  1. Dampaknya Terasa di Berbagai Belahan Dunia

Krakatau melepaskan gas dan abu vulkanik dalam jumlah sangat besar ke atmosfer. Material tersebut membentuk lapisan yang memengaruhi kondisi atmosfer dan menyebabkan penurunan suhu rata-rata pada tahun setelah letusan.

Perubahan atmosfer juga dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah dunia. Selain itu, partikel vulkanik di atmosfer menghasilkan fenomena matahari terbenam dengan warna merah dan jingga yang sangat mencolok.

Fenomena tersebut bahkan melahirkan sebuah hipotesis mengenai karya terkenal Edvard Munch, The Scream. Warna langit dalam lukisan itu diduga terinspirasi oleh pemandangan atmosfer setelah letusan Krakatau, meskipun kaitan tersebut tetap menjadi hipotesis.

Dampak kemanusiaan dari bencana ini juga berlangsung lama. Jenazah korban dilaporkan ditemukan terdampar di sejumlah pantai di Indonesia, India, hingga Afrika selama berbulan-bulan setelah letusan.

  1. Pulau Krakatau Hampir Hilang

Kekuatan erupsi 1883 menyebabkan sebagian besar Pulau Krakatau hancur. Sejumlah wilayah di kepulauan sekitarnya juga mengalami kerusakan parah akibat letusan, tsunami, dan material vulkanik.

Bagian utama gunung kemudian runtuh dan membentuk kaldera, yaitu cekungan besar yang terbentuk ketika bagian gunung mengalami kehancuran setelah material dari dapur magma keluar dalam jumlah besar.

Namun, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak benar-benar berakhir. Pada 1927, sebuah pulau baru mulai muncul dari kawasan kaldera tersebut. Pulau itu kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau dan terus mengalami pertumbuhan.

Aktivitas Anak Krakatau kembali menjadi perhatian dunia pada 2018. Runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir di sekitar Selat Sunda.

  1. Kawasan Bencana Kini Menjadi Bagian dari Alam Liar

Dampak letusan Krakatau terhadap wilayah barat Pulau Jawa sangat besar. Banyak kawasan pesisir mengalami kehancuran akibat tsunami, tertutup abu vulkanik, serta kehilangan penduduk dalam jumlah besar.

Setelah sejumlah wilayah ditinggalkan, alam perlahan mengambil alih kawasan tersebut. Vegetasi mulai tumbuh kembali dan berbagai jenis flora serta fauna berkembang di daerah yang sebelumnya terdampak bencana.

Salah satu kawasan penting yang kemudian mendapat perlindungan adalah Cagar Alam Ujung Kulon. Kawasan ini secara resmi didirikan pada 1957 dan saat ini memiliki luas sekitar 1.206 kilometer persegi.

  1. Ancaman Krakatau Belum Sepenuhnya Berakhir

Letusan 1883 memang telah berlalu lebih dari satu abad, tetapi aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau belum berhenti. Para ahli vulkanologi masih memberikan perhatian terhadap Anak Krakatau yang hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem gunung api tersebut.

Ancaman menjadi semakin serius karena banyak permukiman dan desa berada tidak jauh dari garis pantai. Kondisi geografis ini membuat masyarakat di sekitar Selat Sunda memiliki risiko tinggi apabila terjadi letusan besar yang kembali memicu tsunami.

Sistem peringatan dini juga menjadi faktor penting dalam mengurangi korban. Pengalaman dari bencana sebelumnya menunjukkan bahwa kecepatan penyampaian informasi kepada masyarakat sangat menentukan keselamatan ketika erupsi dan tsunami terjadi.

Letusan Krakatau 1883 pada akhirnya bukan hanya menjadi catatan tentang sebuah gunung api yang meledak dahsyat. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana satu letusan dapat memicu rangkaian bencana, mulai dari ledakan, awan panas, tsunami, hingga perubahan atmosfer yang dampaknya dirasakan jauh melampaui kawasan Selat Sunda.

Lebih dari satu abad kemudian, Krakatau tetap menjadi salah satu contoh paling penting dalam sejarah vulkanologi. Kehadiran Anak Krakatau juga menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut masih memiliki aktivitas vulkanik dan potensi bahaya yang perlu terus dipantau.

(seo)

No more pages

Artikel Terkait