Manuver itu memperlihatkan kepentingan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menjaga likuiditas dan fungsi pasar treasury di tengah tekanan yield jangka panjang. Kebijakan itu akan berlaku mulai 9 September 2026.
BRI Danareksa juga menyoroti aliran dana asing yang relatif solid kepada saham big banks sepekan terakhir.
“Di pasar reguler, net buy asing mencapai Rp1,6 triliun dengan BBRI, BMRI, BBCA dan BBNI menjadi sasaran utama,” dikutip dari catatan BRI Danareksa, Senin (7/9/2026).
Dari sisi fundamental, big banks tetap solid dengan BBRI mencatat laba Rp31,2 triliun (+17,5%), BMRI Rp30,4 triliun (+24,2%), BBCA Rp29,5 triliun (+1,75%) dan BBNI Rp10,8 triliun (+6,3%) sepanjang semester I-2026.
Kendati demikian, kredit perbankan tumbuh 13,6% secara tahunan hingga Juli 2026, lebih cepat dibandingkan dengan DPK yang hanya tumbuh 11,21%. Dengan demikian, tekanan likuiditas makin intens sampai paruh pertama tahun ini.
“Inflow asing berpotensi berlanjut jika investor melihat fundamental dan kualitas aset tetap terjaga, namun tren DPK versus kredit menjadi faktor kunci yang perlu dipantau terhadap NIM dan likuiditas bank,” dikutip dari catatan BRI Danareksa.
(naw)





























