Sementara yield surat utang domestik justru masih tercatat turun 3,7 bps ke 6,64%. Tenor 2 tahun merupakan jenis surat utang yang umumnya sangat terpengaruh oleh kebijakan moneter dan suku bunga acuan.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter Indonesia, sepertinya belum sepenuhnya mengikuti perubahan ekspektasi di AS. Pelaku pasar sepertinya masih memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan kebijakan yang relatif akomodatif.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai dampak sinyal hawkish Ketua The Fed dalam Jackson Hole terhadap pasar SUN cenderung lebih netral. Meski probabilitas kenaikan Fed Fund Rate pada September melonjak sekitar 60% dari sebelum pidato hanya 35%, sementara yield US Treasury tenor 2 tahun melesat 11 basis poin (bps) ke 4,34%.
Menurut Fakhrul, tekanan terhadap SUN biasanya menjadi jauh lebih besar ketika kebijakan The Fed menghasilkan kombinasi indeks dolar AS (DXY) menguat, US Treasury yield tenor panjang meningkat, dan investor global mengurangi eksposur terhadap pasar negara berkembang secara bersamaan.
Namun, ia menilai kali ini kombinasi tersebut belum sepenuhnya terbentuk. "Kalau long-end US Treasury relatif terkendali, spread dan carry SUN Indonesia masih cukup menarik bagi investor,” kata Fakhrul dalam catatannya.
Pemerintah AS memang berencana memperbesar buyback pada obligasi tenor 10-30 tahun, sementara tetap mempertahankan jadwal lelang regulernya untuk mendukung likuiditas di pasar obligasi AS pada tenor panjang.
Selain itu, sepertinya investor juga masih menunggu apakah sinyal hawkish yang dikirim Warsh benar-benar akan terwujud menjadi kenaikan suku bunga pada September, atau hanya menjadi penegasan kembali komitmen The Fed terhadap target inflasi 2%, yang masih jauh panggang dari api.
Pelaku pasar memang memperkirakan adanya peluang kenaikan pada September dengan perkiraan 60%, tapi data tenaga kerja dan inflasi AS yang akan menjadi penentunya.
Sebagai catatan, data ketenagakerjaan AS akan dirilis pada Jumat (4/9/2026) mendatang. Bloomberg Economics memperkirakan tingkat pengangguran AS berada di 4,2% pada Agustus.
(dsp/aji)
































