Logo Bloomberg Technoz

Harga emas dunia bangkit usai ambruk lebih dari 3% pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Sepertinya aksi beli mulai terjadi karena harga aset ini sudah ‘murah’.

Kejatuhan harga emas dunia akhir pekan lalu disebabkan oleh pernyataan bernada hawkish dari Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh. Dalam simposium tahunan di Jackson Hole (Wyoming), Warsh menegaskan komitmen untuk memerangi inflasi. The Fed akan mengeluarkan berbagai ‘jurus’ untuk membawa inflasi ke arah target 2%.

“Kita harus meyakini bahwa inflasi bergerak sesuai tujuan, jelas, dan dengan laju yang memadai. Kalau tidak, maka kami punya pekerjaan yang harus dilakukan,” tegas Warsh, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.

Salah satu ‘senjata’ akan digunakan The Fed, lanjut Warsh, tentu suku bunga. Sebab suku bunga adalah instrumen yang penting untuk mencapai target inflasi dan penciptaan lapangan kerja.

“Kebijakan yang tidak konvensional untuk mendorong aktivitas ekonomi mungkin biasanya cuma dilakukan saat krisis. Namun itu tetap bisa dilakukan,” tuturnya.

Bart Melek, Global Head Commodity  Strategy di TD Securities, menilai pidato Warsh cenderung hawkish. Ada kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

“Pasar mengartikan bahwa The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan pada September atau Desember. Ada perubahan signifikan setelah pidato Warsh,” kata Melek, juga diberitakan Bloomberg News.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

(aji)

No more pages