Menurut Anis, situasi tersebut sekaligus menjadi ujian bagi kemampuan OKI untuk menjalankan perannya dalam merespons berbagai pelanggaran yang terjadi.
"OKI harus memaksimalkan kemampuan dan mekanismenya untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas berbagai kejahatannya serta mengkategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai aksi terorisme," ujarnya.
Selain membahas situasi di Palestina, KTM-LB juga menyepakati Ismail Ould Cheikh Ahmed sebagai Sekretaris Jenderal OKI untuk periode 2026-2031. Ismail, yang berasal dari Mauritania, menggantikan Hissein Brahim Taha dari Chad.
Ismail Ould Cheikh Ahmed sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mauritania.
Di sela-sela KTM-LB, Anis juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Sudan, Menteri Luar Negeri Palestina, Menteri Negara Urusan Luar Negeri Qatar, Wakil Menteri Luar Negeri Turki, serta Wakil Menteri Luar Negeri Somalia.
Pertemuan tersebut membahas kerja sama bilateral serta berbagai isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama.
Partisipasi Indonesia dalam KTM-LB merupakan salah satu bentuk pelaksanaan amanat konstitusi untuk berperan aktif dalam memajukan perdamaian dunia.
Hal tersebut khususnya diwujudkan melalui upaya mendorong penghentian perang di Timur Tengah yang dampak negatifnya terus dirasakan berbagai negara di dunia.
(dec/ros)






























