Josua menjelaskan BI, menurutnya memiliki instrumen kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan hingga pengembangan ekonomi syariah. Sehingga kondisi tersebut membuat BI memiliki ruang untuk menerapkan kebijakan yang berbeda pada masing-masing instrumen.
Menurutnya, BI dapat menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat melalui suku bunga, sementara kebijakan makroprudensial dan instrumen lainnya tetap dapat diarahkan lebih longgar untuk mendukung perekonomian.
"Dan ini saya pikir nggak bisa kita temukan di Bank Sentral lainnya," tuturnya.
Di sisi lain, Josua menilai fleksibilitas bauran kebijakan tersebut menjadi salah satu keunggulan BI dalam merespons kondisi ekonomi. Namun, ruang BI untuk menurunkan suku bunga dalam jangka pendek masih terbatas.
Hal itu mempertimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah serta kondisi eksternal, termasuk ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Oleh karena itu, Josua berharap proses fit and proper test Destry dapat mempertegas komitmen terhadap independensi BI sekaligus memperkuat koordinasi antara bank sentral dan pemerintah.
Menurut dia, penguatan koordinasi tersebut jadi penting terlebih dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), terutama untuk memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
"Tapi kembali lagi ya, kita selalu bicara fiskal, moneter, tapi jangan lupa tadi kunci inti dari [keduanya] support dukungan kepada ekonomi," tuturnya.
Untuk diketahui saja, dalam fit and proper test nya, Destry mengusung visi menjadikan BI sebagai lembaga yang tetap relevan dalam merespons tantangan serta kredibel dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Dan visi tersebut akan dicapai melalui tiga misi. Yang pertama menjaga stabilitas sebagai fondasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Destry.
Maksudnya misi ini ini mencakup pencapaian stabilitas nilai rupiah, pemeliharaan stabilitas sistem pembayaran, serta turut menjaga stabilitas sistem keuangan.
Kedua, sejalan dengan misi yang pertama yakni berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Destry menilai stabilitas yang kuat dapat memberikan kepastian berusaha dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi. Karena itu, stabilitas dan pertumbuhan harus berjalan secara seimbang dan berkesinambungan.
Sementara misi ketiga adalah memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui Sinergi Merah Putih.
(prc/ell)
































