"Meskipun data Juli cenderung terkendali, satu-satunya masalah bagi The Fed adalah inflasi yang masih berada di atas target mereka," kata Richard Moody, kepala ekonom di Regions Financial Corp. "Dan meskipun tampaknya tidak akan melonjak lebih tinggi, inflasi juga belum terlihat akan turun kembali ke level target mereka."
Imbal hasil (yield) Treasury AS dan nilai tukar dolar AS menguat menyusul rilis data tersebut, sementara indeks S&P 500 dibuka melemah. Pasar berjangka mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga di bulan September tetap berada di kisaran 40%, meski para investor masih memperkirakan adanya kenaikan sebelum akhir tahun.
Indikator inflasi jasa yang menjadi perhatian utama, tidak termasuk energi dan perumahan, meningkat 0,3%. Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan harga jasa pengelolaan portofolio dan konsultasi investasi sebesar 5,6%, yang merupakan kenaikan terbesar dalam setahun.
Mulai bulan depan, Biro Analisis Ekonomi (BEA) akan mengubah metode pengukuran harga untuk sejumlah kategori, termasuk jasa hukum, perangkat lunak komputer, dan konsultasi investasi. Sejumlah ekonom memperkirakan perubahan tersebut akan menghasilkan angka PCE yang lebih rendah.
Revisi kecil ke atas terhadap data inflasi dalam beberapa bulan terakhir dapat menjadi amunisi bagi pejabat The Fed yang cenderung mulai menaikkan suku bunga, kata Veronica Clark, ekonom Citigroup Inc. Namun, dia menambahkan bahwa “tren tersebut tidak banyak berubah.”
Dari sisi belanja, data menunjukkan pengeluaran riil yang disesuaikan dengan inflasi untuk barang inti turun 0,8%. Sementara itu, belanja riil untuk jasa meningkat 0,3%, didorong oleh kenaikan pengeluaran untuk jasa transportasi, makanan, dan akomodasi.
Keputusan Amazon.com Inc memajukan acara penjualan Prime Day ke Juni tahun ini dari Juli pada tahun sebelumnya kemungkinan membuat sebagian belanja konsumen terjadi lebih awal, sehingga menekan angka belanja barang pada bulan lalu. Sejumlah peritel, termasuk Walmart Inc, mengatakan konsumen yang sensitif terhadap harga masih berbelanja, tetapi lebih selektif dengan mencari diskon dan produk yang unik.
Data mengenai pendapatan dan tabungan dalam laporan tersebut menunjukkan konsumen mulai kembali memiliki daya beli setelah kenaikan harga menggerus pendapatan mereka dalam beberapa bulan terakhir. Setelah disesuaikan dengan inflasi, pendapatan yang dapat dibelanjakan meningkat 0,4%, kenaikan terbesar sejak Januari. Sementara itu, tingkat tabungan naik menjadi 3%, tertinggi dalam empat bulan.
Para ekonom masih mewaspadai prospek ekonomi karena harga rata-rata bensin kembali berada di atas US$4 per galon. Sejumlah ekonom juga menilai manfaat dari pengembalian pajak yang lebih tinggi dari biasanya, yang kemungkinan membantu menopang belanja dalam beberapa bulan terakhir, kini telah berakhir.
Laporan terpisah yang dirilis pada Rabu menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada laju yang sama seperti estimasi awal pada kuartal II, meski rincian datanya menunjukkan belanja konsumen tumbuh lebih kuat
(bbn)
































