Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa, meskipun target PLTS berkapasitas 100 GW sudah didukung kebijakan yang kuat, pelaksanaannya belum terhubung secara sistematis dengan peta kebutuhan listrik industri pada masa depan.

Imaduddin juga menjelaskan, berdasarkan hasil analisis Indef GTI dengan delapan KEK, integrasi pasokan energi hijau terencana ini terbukti mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.

Tingkatkan PDRB

Langkah integrasi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) agregat dari 5,95% menjadi 6,30%, atau mengalami kenaikan sebesar 0,35 poin persentase jika dibandingkan dengan kondisi dasar (baseline).

“Potensinya dapat lebih besar karena estimasi ini baru kita hitung yang mencakup delapan KEK, belum memperhitungkan KEK lainnya dan kawasan industri yang jauh lebih banyak sudah tersebar di Indonesia,” kata dia.

Peluang lonjakan ekonomi tersebut dinilai masih sangat luas. Terlebih, perhitungan dampak ekonomi ini baru didasarkan pada perkiraan di delapan lokasi KEK, sementara Indonesia saat ini tercatat memiliki 25 KEK dan 175 Kawasan Industri di tingkat nasional.

Untuk diketahui, REZ merupakan kawasan geografis yang dirancang secara khusus dan terintegrasi untuk memusatkan pembangkitan, penyimpanan, serta transmisi energi terbarukan berskala besar.

Konsep ini bekerja layaknya "taman industri hijau" yang menggabungkan berbagai sumber energi bersih—seperti tenaga surya, angin, hingga hidrogen—dalam satu wilayah bernilai sumber daya tinggi.

Dengan mengelompokkan berbagai proyek energi bersih di lokasi yang sama, REZ mampu menciptakan efisiensi biaya infrastruktur (efisiensi skala ekonomi), meminimalkan risiko penghentian daya, dan mempercepat interkoneksi jaringan listrik ke pusat-pusat beban maupun kawasan industri.  

“Di tingkat global maupun domestik, pengadopsian REZ dinilai menjadi instrumen strategis untuk menjembatani kesenjangan antara potensi energi bersih lokal dengan tingginya kebutuhan listrik industri,” kata Imaduddin.

“Negara-negara seperti Australia dan Malaysia telah memanfaatkan model REZ untuk menarik investasi swasta hingga miliaran dolar, menurunkan emisi karbon, sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor manufaktur hijau,” tambahnya.

Adapun, Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah melakukan peluncuran dan peletakan batu pertama (groundbreaking) program PLTS 100 GW kemarin.

"Saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dengan ini secara resmi saya luncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GW diawali dengan 14 PLTS di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau berkapasitas total 5,3 GWp," ujar Prabowo, di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan total kebutuhan investasi dari program PLTS 100 GW adalah US$73 miliar atau setara dengan Rp1.140 triliun.

Adapun, terdapat tiga konsep pengembangan program ini. Konsep itu adalah adalah PLTS Ground Mounted dimana dilakukan pembangunan skala besar di lahan terbuka; PLTS atap yang memanfaatkan atap bangunan; dan PLTS terapung yang memanfaatkan danau dan badan air.

"Saya tidak tahu kenapa angka 5,3, tetapi saya tahu bahwa 5 tambah 3 hasilnya nanti Bapak Presiden sendiri yang bisa menjelaskan gitu," ujar Bahlil.

Bahlil mengatakan program ini berpotensi menghemat Rp73,9 triliun per tahun dari penggunaan PLTS dan penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy strorage system (BESS) dibandingkan dengan menggunakan diesel.

Pemerintah juga menargetkan program ini mampu menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja.

Bila pemerintah mampu mengimplementasikan proyek ini, diperkirakan terdapat penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon mencapai Rp6,31 triliun.

(smr/wdh)

No more pages