Logo Bloomberg Technoz

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.653,3/troy ons. Naik tipis 0,03% dibandingkan hari sebelumnya tetapi merupakan yang tertinggi sejak pertengahan Mei atau lebih dari tiga bulan terakhir.

Harga emas pun sah menghijau tiga hari berturut-turut. Selama tiga hari tersebut, harga terangkat lebih dari 3%.

Dalam sepekan terakhir, harga emas melesat 7.39% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga melambung 14,17%.

Terdapat sejumlah sentimen positif bagi emas. Pertama adalah perkembangan di Timur Tengah.

Bloomberg News memberitakan, Iran dan Oman tengah membahas kerangka kerja sementara untuk membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz. 

Berita ini membuat harga minyak dunia jatuh. Kemarin, harga minyak jenis brent ambruk hampir 4% ke US$ 86,99/barel.

Kekhawatiran meredanya lonjakan harga energi ikut meredakan kecemasan akan lonjakan inflasi. Artinya, bank sentral di berbagai negara termasuk Federal Reserve dari Amerika Serikat (AS) sepertinya belum perlu terlalu terburu-buru mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Sentimen kedua adalah koreksi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Kemarin, yield surat utang Negeri Adikuasa tenor 10 tahun turun 7 basis poin (bps) ke 4,634%.

Penurunan yield obligasi ikut menyeret nilai tukar dolar AS. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,1% ke 98,8.

Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Saat mata uang Negeri Paman Sam terdepresiasi, emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain sehingga tercipta aksi beli.

Sentimen ketiga, lagi-lagi terkait Tfe Fed, adalah penantian investor akan simposium tahunan di Jackson Hole (Wyoming), akhir pekan ini. Pasar menantikan bagaimana arah kebijakan The Fed.

Fidelity International Ltd, pengelola dana asal AS, mengungkapkan bahwa ketidakpastian terkait arah kebijakan The Fed membuat mereka memupuk emas dalam tiga pekan terakhir. George Efstathopoulos, Manajer Portofolio di Fidelity, menyebut akan mempertimbangkan untuk menaikkan batas investasi di emas yang saat ini ada di 5%. Ini dilakukan karena status aset aman (safe haven) yang digenggam dolar AS kian pudar.

“Menurut saya, ini karena kurangnya kredibilitas The Fed dan kebutuhan akan kepastian kebijakan,” kata Efstathopoulos, seperti dikutip dari Bloomberg News.

(aji)

No more pages