Logo Bloomberg Technoz

Juru bicara Alibaba belum segera menanggapi permintaan komentar.

“Kenapa bukan obligasi?” kata Vey-Sern Ling, managing director di Union Bancaire Privee. “Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin membutuhkan dana lebih besar dari perkiraan untuk investasi AI dan juga mungkin sedang berlomba untuk mendahului perusahaan lain.”

Perusahaan-perusahaan AI terkemuka China sejauh ini menunjukkan sikap lebih berhati-hati dibandingkan perusahaan teknologi AS seperti Meta Platforms Inc. dan Alphabet Inc., yang secara bersama-sama telah mengalokasikan dana hingga triliunan dolar untuk tetap unggul dalam persaingan AI. Pesaing Alibaba di China, Baidu Inc., tidak memiliki rencana menerbitkan saham baru karena dana yang tersedia dan arus kas operasionalnya dinilai mencukupi, kata juru bicara perusahaan pada Senin.

Namun, persaingan semakin ketat, harga perangkat keras seperti cip memori melonjak, dan perusahaan khawatir tertinggal dalam pengembangan teknologi revolusioner.

Penjualan saham Alibaba tersebut menjadi yang terbesar di Hong Kong sejak perusahaan investasi teknologi Prosus NV menjual saham China’s Tencent Holdings Ltd. senilai US$14,7 miliar (Rp260,2 triliun) pada 2021, berdasarkan data Bloomberg.

Saham Alibaba Anjlok

Upaya Alibaba untuk menantang Anthropic PBC dan OpenAI telah menekan margin perusahaan, sementara lemahnya konsumsi domestik membebani bisnis ritel daring utamanya. Alibaba meningkatkan belanja modalnya pada kuartal Juni menjadi hampir US$10 miliar (Rp177,0 triliun) dan mengatakan fokusnya kini adalah meningkatkan daya saing jangka panjang.

Sejumlah investor mempertanyakan apakah Alibaba mendapatkan hasil yang sepadan dari belanja modal tersebut. Divisi komputasi awannya mencatat pertumbuhan dua digit, sementara pendapatan terkait AI meningkat tiga digit. Namun, seperti banyak pesaingnya, Alibaba belum menunjukkan bagaimana perusahaan akan menghasilkan pendapatan berkelanjutan dalam jangka panjang dari layanan AI.

Michael Burry, investor yang terkenal lewat The Big Short, mengatakan dirinya “tidak dapat menyetujui” penerbitan saham baru Alibaba. “Ini kembali menjadi paradigma baru bagi BABA, dan ROIC-nya akan terus turun,” tulisnya dalam unggahan media sosial pada Minggu.

Menurut Burry, ia sebelumnya berencana menjual kembali sebagian besar kepemilikannya di Alibaba yang dialihkan ke JD.com Inc. “belum lama ini,” tetapi kini “tidak lagi” memiliki niat tersebut. Burry menambahkan, harga saham Alibaba harus turun hingga setengahnya agar ia kembali tertarik.

Besarnya penggalangan dana Alibaba memang “signifikan”, tetapi potensi permintaan dari lembaga keuangan dan dana kekayaan negara dapat meredakan sebagian kekhawatiran mengenai dilusi, kata Charu Chanana, chief investment strategist di Saxo Markets.

“Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana Alibaba memonetisasi belanja tersebut” di tengah lemahnya sentimen konsumen China dan ketatnya persaingan di pasar AI domestik, ujarnya. Alibaba berencana menggunakan dana hasil penjualan saham untuk berinvestasi dalam kemampuan AI secara menyeluruh, termasuk memperluas dan meningkatkan infrastrukturnya.

Saham Alibaba akan dikenai masa lock-up selama 90 hari. China International Capital Corp., HSBC Holdings Plc, Morgan Stanley, dan UBS Group AG bertindak sebagai pengatur transaksi tersebut, berdasarkan ketentuannya.

(bbn)

No more pages