Pembicaraan yang melibatkan Kementerian Luar Negeri China dan para pejabat lingkungan hidup masih berada pada tahap awal. Belum ada kepastian apakah pemerintah China akan melanjutkan rencana untuk menjadi tuan rumah pertemuan COP33, kata sumber-sumber tersebut.
Setiap keputusan untuk melakukannya membutuhkan persetujuan dari jajaran pemerintahan tertinggi, menurut mereka.
Kementerian Luar Negeri China dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC belum segera menanggapi permintaan komentar.
UNFCCC merupakan badan PBB yang bertanggung jawab menangani perubahan iklim dan menyelenggarakan pertemuan COP—atau Conference of the Parties—setiap tahun, yang mempertemukan 197 negara dan Uni Eropa.
Diplomasi global terkait pengurangan emisi tengah menghadapi tekanan setelah Presiden Donald Trump tahun ini kembali menyelesaikan proses penarikan AS dari Perjanjian Paris, untuk kedua kalinya.
Tekanan juga meningkat setelah India membatalkan rencananya menjadi tuan rumah pertemuan iklim 2028.
Presiden Xi Jinping telah menjadikan perlindungan lingkungan sebagai salah satu tema utama kepemimpinannya.
China menargetkan peningkatan signifikan terhadap “pengaruh, kapasitas untuk mengarahkan, kekuatan membentuk, dan daya tarik moralnya dalam tata kelola iklim global” hingga 2030, menurut sebuah rencana yang diterbitkan bulan lalu oleh Kementerian Ekologi dan Lingkungan, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional, serta sejumlah badan pemerintah utama lainnya.
Namun, menjadi tuan rumah COP juga akan membuat rekam jejak China sendiri dalam isu iklim mendapat sorotan, termasuk minimnya dukungan China pada sejumlah inisiatif yang didorong dalam perundingan PBB.
Ini mencakup upaya menetapkan target yang tegas untuk transisi global menjauh dari bahan bakar fosil serta upaya memperluas kelompok negara donor yang diwajibkan berkontribusi terhadap pendanaan iklim bagi negara-negara miskin.
Sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia, China merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar. Dalam strategi terbarunya yang diserahkan kepada PBB, China hanya menargetkan pengurangan emisi sebesar 7% hingga 10% pada 2035.
Penurunan emisi yang baru-baru ini terjadi dapat berbalik arah akibat meningkatnya permintaan listrik dan pertumbuhan industri kimia yang intensif karbon dalam beberapa tahun mendatang, meskipun energi terbarukan terus berkembang.
Fakta bahwa China akan menyelenggarakan kongres partai yang digelar dua kali dalam satu dekade pada tahun depan, yang akan mencakup perombakan sejumlah posisi kepemimpinan tertinggi, juga dapat mempersulit proposal untuk menjadi tuan rumah COP33.
Pertemuan tahun ini akan berlangsung di Antalya, Turki, pada November, sementara Ethiopia akan menjadi tuan rumah di Addis Ababa pada 2027.
Berdasarkan mekanisme UNFCCC, tanggung jawab penyelenggaraan pertemuan tersebut bergilir di antara kelompok-kelompok regional. Negara-negara Asia-Pasifik, yang terdiri dari lebih dari 50 negara termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia, dijadwalkan menyediakan tuan rumah untuk 2028.
China saat ini juga mengajukan tawaran untuk menjadi tuan rumah permanen sekretariat PBB untuk keanekaragaman hayati di laut lepas. Jika terwujud, badan tersebut akan menjadi lembaga tingkat tinggi pertama yang terkait dengan PBB dan berkedudukan di China.
(bbn)

































