Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham juga menjadi penopang IHSG pada perdagangan hari ini. Saham barang baku, saham perindustrian, dan saham konsumen non primer mencatatkan penguatan paling tinggi, dengan masing–masing melesat 3,58%, 1,81% dan 1,73%.

Sejumlah saham emiten emas yang menempati jajaran top gainers:

  • PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) menguat 17,92% di posisi Rp625/saham
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 9,61% di posisi Rp685
  • PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 8,84% di posisi Rp1.415
  • PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 8,75% di posisi Rp2.360
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 3,63% di posisi Rp3.140
  • PT Indika Energy Tbk (INDY) menguat 3,46% di posisi Rp2.690
  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat 2,27% di posisi Rp7.875
  • PT United Tractors Tbk (UNTR) menguat 0,95% di posisi Rp23.800

Daftar saham LQ45 yang menguat:

  • PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menguat 9,81% di posisi Rp560/saham
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menguat 7,74% di posisi Rp4.460
  • PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menguat 5,77% di posisi Rp825
  • PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menguat 4,55% di posisi Rp460
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 4,41% di posisi Rp190
  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 3,94% di posisi Rp5.275
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 3,51% di posisi Rp2.950
  • PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menguat 2,91% di posisi Rp2.120
  • PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menguat 2,88% di posisi Rp214

Penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) jadi sentimen positif bagi sang logam mulia.

Dinamika di AS membawa angin segar bagi harga emas. Departemen Keuangan AS mengumumkan akan membeli kembali (buyback) obligasi jangka panjang. Langkah ini dilakukan untuk menekan yield.

“Meningkatkan, setidaknya dua kali, ukuran likuiditas untuk mendukung operasi buyback obligasi tenor 10 tahun sampai 30 tahun,” sebut keterangan Departemen Keuangan AS, mengutip Bloomberg News.

Hasilnya lumayan. Kemarin, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun 6 basis poin (bps) ke 4,65%.

Pada 31 Juli lalu, yield instrumen ini menyentuh 4,74% yang menjadi catatan tertinggi sepanjang tahun 2026.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat imbal hasil instrumen lain sedang tinggi.

Terlebih lagi, melemahnya data penjualan ritel AS hingga menekan nilai dolar AS (DXY), berhasil membuat emas batangan lebih murah bagi sebagian besar pembeli.

Data ekonomi terbaru AS menunjukkan penurunan dan perlambatan, baik pada sentimen konsumen maupun penjualan ritel, yang membantu meredakan kecemasan terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral dekat-dekat ini—faktor yang biasanya menjadi hambatan bagi emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil (bunga).

(fad)

No more pages