Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham barang baku, saham konsumen non primer, dan saham konsumen primer menjadi pemberat IHSG hingga amblas di zona merah, dengan turun mencapai 1,21%, 1,05%, dan 0,96%.

Turut senasib dengan saham–saham LQ45 juga tercatat melemah harganya, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) amblas 4,62%, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terjun bebas 4,55%, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) terpeleset 3,35%, dan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tertekan 3,33%.

Senada, tren negatif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat pelemahan 3,21%, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 2,98%. Juga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) drop 2,83%.

Adapun Bursa Saham Asia lainnya juga tergelincir hebat di zona merah pada hari ini. KOSPI Korea Selatan jatuh 5,81%, Shenzhen Comp. China amblas 4,86%, NIKKEI 225 turun 3,16%, TOPIX drop 3,09%, CSI 300 China terpeleset 2,91%, Shanghai melemah 2,41%, KOSDAQ Korea Selatan amblas 1,17%, SETI Thailand terdepresiasi 0,73%, SENSEX India merah 0,42%, Strait Times Singapore terdepresiasi 0,13%, dan FTSE Malaysia KLCI turun 0,12%.

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus. Satu yang ditunggu tentu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18–19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5%.

BI Rate (Bloomberg)

Keputusan ini konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, dan mempertahankan inflasi 2026 dan 2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus–minus 1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Hasil ini sesuai dengan ekspektasi pasar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi BI Rate tetap 5,75%.

Di antara yang mengestimasikan BI Rate bertahan di 5,75% adalah Tamara Henderson, ekonom Bloomberg Economics, yang menilai stabilnya rupiah dan inflasi yang masih berada dalam sasaran memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga BI Rate.

Tamara Henderson menyebut inflasi berada dalam kisaran target BI di rentang 1,5%-3,5%, begitu juga dengan pergerakan nilai tukar.

“Rupiah secara umum stabil, bertahan dalam kisaran yang terbentuk sejak Juni,” papar Henderson dalam catatannya.

Mengenai arah atau posisi kebijakan moneter ke depan, lanjut Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti, Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan tetap baik ditopang implementasi berbagai program stimulus Pemerintah dan keyakinan pelaku ekonomi yang terjaga. Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%.

Melansir riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup melemah 0,86% di level 6.394 pada perdagangan Rabu, seiringan dengan RDG Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate pada level 5,75%. 

Secara teknikal, IHSG belum berhasil melewati level 6.500 serta ditutup di bawah level 6.400, sehingga diperkirakan IHSG berpotensi uji level 6.300–6.350 pada perdagangan Kamis (20/8/2026).

IHSG turut melemah di tengah kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik. Diberitakan, sebut Phintraco Sekuritas, Iran mempertimbangkan untuk menyerang aset-aset AS di Bulgaria dan Siprus jika perang Amerika Serikat (AS) – Iran kembali berlangsung. 

UEA menyatakan telah menghentikan seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Sebelumnya UEA menyatakan telah mendeteksi adanya rudal yang diluncurkan oleh Iran ke arah wilayah perairannya pada Selasa (18/8/2026) sebelumnya. 

“Kekhawatiran akan memanasnya ketegangan geopolitik yang meluas dan dampaknya terhadap harga minyak menjadi faktor negatif,” terang Phintraco, Rabu.

(fad)

No more pages