Tergelincirnya IHSG di zona merah merupakan efek secara langsung dari melemahnya sejumlah saham big caps. Berikut deretan saham top laggards, Rabu (19/8/2026), berdasarkan data Bloomberg.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menekan 19,66 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menekan 3,81 poin
- PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) menekan 3,08 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 2,24 poin
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menekan 1,37 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menekan 1,08 poin
- PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menekan 1,05 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menekan 0,96 poin
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) menekan 0,95 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menekan 0,93 poin
Panin Sekuritas memaparkan, IHSG ditutup melemah 0,6% di level 6.411 pada Sesi I perdagangan siang hari ini. Seiring pasar masih akan menantikan hasil keputusan RDG BI yang akan diumumkan pada siang ini, yang akan dipimpin oleh Pjs BI, Destry Damayanti.
Perhatian investor amat tertuju dan berfokus ke Thamrin di mana kantor pusat Bank Indonesia (BI) berada, setelah menggelar pertemuan sedari kemarin, dan akan mengumumkan hasil RDG, pada siang hari nanti.
Yang jadi perhatian, rapat ini merupakan RDG perdana Destry Damayanti menggantikan Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Sebelumnya, Destry mengatakan BI akan tetap menjaga keseimbangan antara rupiah dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi sambil tetap mempertahankan suku bunga, dengan memperkuat penggunaan instrumen makroprudensial.
Rapat Dewan Gubernur BI yang telah digelar sejak Selasa–Rabu, 18–19 Agustus 2026 dan diagendakan mengumumkan keputusan siang nanti pukul 14.00 WIB, diprediksi akan menghasilkan vonis tahan, hold, untuk BI Rate tetap di level 5,75%.
Mengacu konsensus yang dihelat oleh Bloomberg hingga siang hari ini, sebanyak 36 ekonom/ analis yang disurvei, mengestimasikan BI Rate akan dipertahankan tetap di level 5,75%.
Konsensus ini sejalan dengan proyeksi Bloomberg Economics yang menilai stabilnya rupiah dan inflasi yang masih berada dalam sasaran memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga BI Rate.
Menelisik lebih jauh, sepanjang Agustus, pergerakan rupiah memang terbilang cukup stabil dengan penguatan 0,93%, month–to–date (mtd) hingga Rabu (19/8/2026) siang hari ini.
Namun, jika dibandingkan dengan tren penguatan yang terjadi pada mata uang regional, penguatan rupiah relatif lebih rendah daripada mata uang lainnya. Won Korea Selatan, misalnya, menguat 3,02%, dan dolar Taiwan 1,04%. Terlebih jika disanding dengan data year–to–date (ytd) nilai tukar rupiah amat tertinggal jauh dengan tren pelemahan mencapai 6,42%.
(fad)






























