Sejumlah saham mencatat pelemahan luar biasa dan menjadi top losers, seperti PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) yang amblas 14%, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) jatuh 13,9%, dan PT Bhaktiagung propertindo Tbk (BAPI) jatuh 10%.
Tidak hanya IHSG, nyaris semua indeks saham Asia juga terbenam di zona merah. Index KOSPI (Korea Selatan) jadi yang paling parah dengan runtuh mencapai 5,72%.
Disusul oleh Shenzhen Comp. (China), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), PSEI (Filipina), TAIEX (Taiwan), SETI (Thailand), KOSDAQ (Korea Selatan), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), BSE SENSEX (India), Straits Times (Singapura), dan KLCI (Malaysia) yang melemah masing–masing 4,25%, 2,97%, 2,89%, 2,72%, 2,19%, 1,81%, 1,41%, 0,61%, 0,51%, 0,46%, 0,42%, 0,35%, dan 0,22%.
Sentimen negatif yang menyeret bursa Saham Asia datang dari ketidakpastian terhadap perang di Timur Tengah yang terus bersitegang antara Amerika Serikat (AS) vs. Iran.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran. Pernyataan ini membuat konflik terus memanas hingga Selat Hormuz berada dalam ketidakpastian total.
Nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni lalu telah jatuh tempo setelah berulang kali dilanggar selama rentang 60 hari tersebut. Tidak ada rencana untuk memperpanjang.
“Tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung, atau yang dijadwalkan dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump melalui platform media sosial, mengutip Bloomberg News.
Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran dengan AS, menyampaikan kepada para anggota parlemen pada Selasabahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum AS mencabut blokade pelabuhan, mencairkan aset yang dibekukan, menghapus sanksi minyak, dan menghentikan seluruh operasi militernya, sebagaimana yang disepakati pada Juni.
Sementara itu, Trump menuntut Iran untuk menghentikan upaya penarikan tarif terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur perairan tersebut, sedangkan Teheran menyatakan akan mengelola lalu lintas maritim bersama dengan Oman.
Ketika ditanya apa ia akan mengusahakan perpanjangan nota kesepahaman yang ditandatangani, Trump menyahut singkat, “Tidak.” Gencatan senjata tersebut sejatinya ditujukan untuk memberikan tenggat 60 hari bagi Washington dan Tehran guna mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen.
(fad/aji)





























