Di sisi lain, manajemen ENRG menyatakan bahwa total liabilitas perseroan lebih besar ketimbang total aset lancar per Juni 2026. Posisi neraca itu turut menjadi going concerns manajemen sampai pertengahan tahun ini.
Adapun, liabilitas jangka pendek ENRG mencapai US$470,87 juta per Juni 2026, lebih tinggi dari total aset lancar sekitar US$281 juta.
Dalam situasi ini, manajemen menerbitkan surat utang baru berdenominasi rupiah senilai US$119,45 juta, sekitar US$18,73 juta jadi bagian lancar.
Selain itu, manajemen turut menerbitkan obligasi berkelanjutan I Tahap IV senilai pokok Rp250 miliar, bertenor 370 hari, dengan kupon 8,95%.
Besaran kupon itu mengindikasikan investor obligasi menuntut premi risiko tambahan untuk memegang surat utang emiten migas grup Bakrie tersebut.
Chief Financial Officer & Wakil Presiden Direktur ENRG Edoardus ardianto mengatakan perseroannya terus menerapkan pendekatan yang prudent dalam mengelola sumber daya keuangan dan kebutuhan pendanaan perseroan.
“Kami tetap fokus dalam mendukung kegiatan usaha perseroan, dengan tetap menjg fleksibilitas keuangan dan pengelolaan keuangan yang efektif,” kat Edoardus.
(naw)






























