Sugianto menekankan kerentanan utama kilang single train terletak pada ketiadaan unit cadangan. Apabila terjadi kendala teknis, proses produksi akan terhenti total.
Hal ini berbeda dengan kilang multi train yang tetap dapat mendistribusikan LNG meskipun salah satu unitnya mengalami penghentian operasi.
Risiko Penghentian
Untuk memitigasi risiko penghentian produksi secara total, pihak manajemen memfokuskan seluruh upaya pada keandalan operasional atau operational excellence.
Strategi ini bertumpu pada peningkatan kualifikasi personel serta pelaksanaan sistem pemeliharaan berkala yang disiplin.
"Untuk itu, mitigasi risiko pada kilang single train berfokus pada keandalan pengoperasian. Seluruh operator dan teknisi yang mengoperasikan kilang harus teruji dan berkualifikasi tinggi,” kata dia.
Sugianto menambahkan keberhasilan operasional kilang juga bergantung pada kolaborasi lintas tim internal.
Pemantauan kondisi peralatan dilakukan secara intensif dan berbasis risiko guna mencegah timbulnya kerusakan mendadak.
“Pengoperasian kilang didukung penuh oleh tim maintenance, technical services, safety, serta tim reliability dan risk-based inspection [RBI] yang secara disiplin merawat serta memantau kondisi peralatan," tambah Sugianto.
Adapun, manajemen DSNLG menetapkan target pengiriman sebanyak 40 hingga 41 kargo per tahun atau setara dengan setara dengan 120—123 juta million british thermal units (MMBtu) sehingga kestabilan produksi menjadi kunci utama.
"Keterlambatan atau penghentian produksi yang tidak terencana atau unplanned shutdown, bahkan dalam hitungan satu hari berpotensi mengganggu seluruh siklus pengiriman ke terminal pembeli," katanya.
Sugianto menjelaskan perhitungan penjadwalan pengolahan dan pengiriman kargo telah memperhitungkan tingkat toleransi kendala mesin utama yang dijamin oleh pabrikan kompresor.
"Saat ini garansi keandalan sebesar 98%. Artinya, dalam satu tahun batas maksimum unplanned shutdown yang ditoleransi adalah sekitar tujuh hari. Penjadwalan pengiriman LNG kami hitung berdasarkan kalkulasi tersebut, yakni sekitar 40—41 kargo per tahun," jelas Sugianto.
Selain faktor teknis internal, dinamika eksternal di area pelabuhan tujuan pembeli juga dapat memengaruhi kelancaran pasokan gas.
Skenario penundaan sandar kapal akibat cuaca buruk memaksa pihak kilang melakukan penyesuaian volume produksi agar kapasitas tangki penyimpanan tidak melebihi batas penampungan.
Apabila pengiriman tertunda akibat cuaca ekstrem seperti badai topan di pelabuhan tujuan, DSLNG harus menurunkan laju produksi (downrate).
Penurunan produksi kilang tersebut kemudian berimbas pada pengurangan pasokan gas dari sektor hulu migas.
“Pengurangan pasokan dari hulu ini membawa konsekuensi finansial bagi kilang berdasarkan skema perjanjian take or pay [ToP] yang menetapkan komitmen pengambilan minimum sebesar 90%,” ujarnya.
Sebagai informasi, teknologi single train dalam industri LNG merujuk pada pemrosesan pencairan gas alam cair yang menggunakan satu rangkaian lini produksi tunggal dari tahap pemurnian (pretreatment) hingga pendinginan (liquefaction).
Keunggulan utama konfigurasi ini terletak pada keandalan proses, waktu pembangunan yang lebih singkat, serta fleksibilitas modifikasi.
Pabrik dengan single train dapat dirancang untuk memproses cadangan gas bumi setempat tanpa harus menunggu ditemukannya cadangan raksasa. Dengan demikian, komersialisasi gas alam dari ladang terisolasi dapat berlangsung lebih cepat dan ekonomis.
Di Indonesia, selain single train, terdapat juga penerapan sistem multiple train dalam teknologi LNG, seperti yang diterapkan oleh kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur, milik PT Badak LNG serta proyek kilang LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat yang dioperasikan oleh BP (British Petroleum).
Di sisi lain, dalam kategori kilang LNG skala besar, PT Donggi Senoro LNG tercatat menjadi pelopor konsep single train pertama yang memonetisasi cadangan gas terisolasi, khususnya untuk sumber gas wilayah Indonesia timur yang telah beroperasi sejak 2015.
(smr/wdh)































