Kilas balik, Whoosh pertama kali diumumkan pada 2015 lewat nota kesepahaman antara Kementerian BUMN dengan National Development and Reform Commission atau Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional asal China.
Untuk merealisasikan proyek tersebut maka dibentuklah PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia dan China. Sebanyak 60% saham KCIC dimiliki konsorsium Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sedangkan 40% sisanya dimiliki Beijing Yawan HSR Co., Ltd.
Di dalam PSBI sendiri, pemegang saham terdiri atas PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, serta PTPN I. Seiring restrukturisasi yang dilakukan pemerintah, PT KAI kini menjadi pemegang saham terbesar di PSBI sehingga memegang peran dominan dalam pengelolaan investasi Indonesia di KCIC.
Pembangunan fisik pun dimulai pada 2018, di mana proyek sepanjang sekitar 142 kilometer itu menghubungkan Stasiun Halim di Jakarta Timur dengan Stasiun Tegalluar Summarecon di Kabupaten Bandung melalui Stasiun Karawang dan Padalarang. Dengan kecepatan operasi hingga 350 kilometer per jam, waktu tempuh Jakarta-Bandung dipangkas menjadi sekitar 40-45 menit.
Meski demikian proyek pembangunannya pun tak berjalan dengan mulus begitu saja. Mulai dari pembebasan lahan, dampak pandemi Covid-19, perubahan desain konstruksi, hingga kenaikan harga material yang memicu pembengkakan biaya proyek, sehingga membuat penyelesaian proyek tersebut tidak selesai sesuai dari target awal.
Nilai investasi yang semula diperkirakan sekitar US$5,5 miliar akhirnya melonjak menjadi sekitar US$7,27 miliar atau bertambah hampir US$1,8 miliar.
Pemerintah akhirnya mengubah skema pembiayaan dengan memberikan dukungan melalui penyertaan modal negara (PMN) kepada PT KAI agar porsi ekuitas konsorsium Indonesia dapat dipenuhi. Sementara sebagian besar pembiayaan proyek tetap berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB).
Hingga pada 2 Oktober 2023 Presiden Joko Widodo meresmikan Whoosh dan layanan komersialnya dimulai pada 17 Oktober 2023.
Whoosh Jadi 'Bom Waktu'
Namun, tantangan sesungguhnya proyek ini puns juga belum sepenihnya berakhir. Sebab, besarnya pembiayaan berbasis utang membuat kondisi keuangan proyek menjadi sorotan.
Bahkan pada pertengahan tahun lalu Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin sempat menyebut persoalan Whoosh sebagai “bom waktu”.
“Kami yakin dalam satu minggu ke depan bisa memahami semua kendala. Terutama masalah KCIC yang memang ini bom waktu buat…” ujar Bobby dalam RDP dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (20/8/2025).
Belakangan KAI diketahui menanggung bagian rugi investasi konsorsium pengendali Whoosh masing-masing Rp2,22 triliun dan Rp2,92 triliun pada 2024 dan 2025.
Saldo investasi KAI yang sempat mencapai Rp7,72 triliun setelah setoran tambahan Rp2,7 triliun pada 2024 lalu belakangan sisa Rp3,24 triliun di akhir 2025.
Nilai investasi KAI yang menguap sekitar Rp4,48 triliun itu mencerminkan rugi yang mesti ditanggung perusahaan setelah menguasai 58,53% saham PSBI, kendaraan investasi Danantara yang menyalurkan pinjaman ke operator Whoosh.
Utang Proyek
Adapun untuk diketahui, pembiayaan proyek terdiri atas 75% pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25% ekuitas konsorsium. Untuk menutup cost overrun, pemerintah menyuntikkan PMN Rp3,2 triliun ke KAI, sementara CDB menambah pinjaman sebesar US$448 juta yang kemudian diteruskan ke KCIC.
Secara total, utang proyek mencapai sekitar Rp79 triliun dengan bunga awal 3,4% per tahun, atau setara beban bunga US$120,9 juta per tahun. Studi KCIC dan KAI memperkirakan pengembalian investasi membutuhkan waktu 38 tahun, sedangkan pemerintah menghitungnya dalam kisaran 30–40 tahun.
Di tengah polemik restrukturisasi utang Whoosh, hingga pertengahan tahun 2026 ini kereta cepat tersebut telah melayani lebih dari 12 juta penumpang dengan rata-rata penumpang harian mencapai sekitar 30.000 orang.
Meski demikian, meningkatnya jumlah penumpang belum serta-merta menghilangkan tantangan finansial dari proyek transportasi paling ambisius ini.
(ain)
































