Ancaman tersebut kemungkinan besar akan menggagalkan rencana FIFA. Eropa merupakan rumah bagi jajaran tim terbaik dunia, termasuk juara bertahan Piala Dunia, Spanyol. Sebanyak 55 negara anggota UEFA yang juga merupakan anggota FIFA dijadwalkan akan memberikan suara secara individual terkait proposal pemisahan entitas tersebut.
Bloomberg menjadi pihak pertama yang melaporkan bahwa UEFA tengah mempertimbangkan opsi boikot terhadap ajang-ajang FIFA. Awal pekan ini, pengelola sepak bola Eropa itu bereaksi keras terhadap proposal FIFA yang ingin menggaet investasi swasta.
Sebagai respons, UEFA mulai menggelar diskusi internal mengenai bagaimana klub dan asosiasi anggotanya dapat memboikot turnamen-turnamen tersebut. Hal ini mencakup Piala Dunia serta Piala Dunia Antarklub—sebuah turnamen garapan FIFA yang diperluas dan berpotensi menyaingi kompetisi bergengsi dan menguntungkan milik UEFA, Liga Champions.
Dalam proposalnya, FIFA berencana memindahkan berbagai operasi komersial utama dan penyelenggaraan turnamen ke dalam entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise. Entitas tersebut diperkirakan memiliki valuasi awal sekitar US$20 miliar, dengan FIFA berupaya menghimpun dana hingga US$4,2 miliar dari investor eksternal, sambil tetap mempertahankan kendali penuh melalui kepemilikan mayoritas di dewan direksi.
UEFA dan FIFA, yang sama-sama berstatus organisasi nirlaba, telah lama memiliki hubungan yang tidak selalu harmonis. Ketegangan itu semakin meningkat seiring langkah FIFA memperluas pengaruhnya ke wilayah yang selama ini menjadi ranah UEFA.
Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 yang diperluas, dengan total hadiah mencapai US$1 miliar yang dibagi kepada 32 tim peserta, kini dipandang sebagai pesaing langsung Liga Champions, salah satu kompetisi sepak bola dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.
Selain itu, serikat pemain juga mengeluhkan jadwal pertandingan yang semakin padat akibat bertambahnya jumlah kompetisi. Klub-klub, yang bertanggung jawab membayar gaji pemain, kini mendorong agar jumlah turnamen internasional dikurangi demi meminimalkan risiko kelelahan dan cedera pemain.
FIFA belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
(bbn)
































