Data-data tersebut menyoroti ketahanan ekonomi AS yang sejauh ini mampu bertahan dari kejatuhan akibat perang Iran. Meskipun konflik telah mendorong kenaikan harga dan menekan sentimen pasar, penurunan harga bensin di akhir kuartal bersamaan dengan pengembalian pajak (tax refund) yang lebih tinggi dari biasanya serta maraknya promosi penjualan berhasil menopang belanja rumah tangga.
Data terpisah yang dirilis Kamis menunjukkan belanja konsumen yang disesuaikan dengan inflasi naik secara solid sebesar 0,4% pada bulan Juni, menyamai capaian terkuat sejak Juli 2025. Indikator inflasi favorit Federal Reserve—yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE)—turun 0,1% bulan lalu. Di luar sektor pangan dan energi, indikator inti tersebut naik lebih rendah dari yang diproyeksikan.
Investasi bisnis tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan pada kuartal kedua. Gelombang investasi AI skala besar terus memainkan peran krusial, berdampingan dengan kuatnya permintaan akan peralatan industri dan transportasi.
Setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada hari Rabu, Gubernur Kevin Warsh menggambarkan ketahanan ekonomi saat ini sebagai sesuatu yang "mengesankan", namun mencatat bahwa aspek yang "paling menonjol" adalah kekuatan pada investasi bisnis.
Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa termasuk Meta Platforms Inc dan Microsoft Corp secara agresif terus membangun pusat data (data center) serta berinvestasi pada AI, terlepas dari kekhawatiran para investor mengenai apakah investasi besar tersebut akan membuahkan hasil.
Detail mendasar dari laporan ini "jauh lebih kuat dari perkiraan," kata Stephen Stanley, Chief US Economist di Santander US Capital Markets LLC. "Saya tidak akan mengatakan ekonomi melaju di seluruh lini, tetapi pertumbuhan ini jelas didorong oleh lebih dari sekadar demam AI."
Ekspor bersih mengikis satu poin persentase dari kalkulasi PDB pada kuartal kedua. Hal tersebut kemungkinan mencerminkan kombinasi dari berbagai faktor, termasuk upaya mempercepat masuknya barang ke dalam negeri sebelum gelombang tarif baru diberlakukan, serta pesatnya laju investasi modal.
Penurunan persediaan barang (inventories) turut mengikis 0,67 poin persentase tambahan dari PDB, mengindikasikan bahwa banyak pelaku usaha yang memilih menghabiskan stok barang mereka selama perang berlangsung.
Kekuatan Konsumen
Kekuatan dalam pengeluaran rumah tangga didorong oleh belanja barang tahan lama seperti perabotan dan kendaraan bermotor. Di sektor jasa, konsumen meningkatkan pengeluaran pada kategori diskresioner seperti rekreasi, layanan makanan, serta akomodasi. Pada bulan Juni, pengeluaran untuk olahraga tontonan melonjak 23,4%, yang kemungkinan mencerminkan besarnya permintaan untuk Piala Dunia FIFA.
Laporan BEA menunjukkan investasi tetap non-residensial naik pada tingkat 8,4%. Investasi dalam peralatan industri melonjak paling tinggi sejak 2011, sementara pengeluaran untuk peralatan transportasi mencatatkan kenaikan tertinggi dalam dua tahun. Pengeluaran untuk perangkat lunak dan peralatan pemrosesan informasi juga tumbuh kuat, meski dengan laju yang sedikit melambat.
Pengeluaran pemerintah federal mengalami penurunan, yang mencerminkan penjualan minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR), menurut laporan tersebut. Namun, karena penjualan minyak tersebut tercatat dalam komponen PDB lainnya, "tidak ada dampak langsung" terhadap PDB secara keseluruhan. Kendati demikian, pengeluaran untuk pertahanan nasional tetap meningkat di tengah perang dengan Iran.
Investasi sektor perumahan memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan—meski relatif tipis—untuk pertama kalinya sejak akhir 2024. Suku bunga KPR yang tinggi secara umum telah menahan permintaan pembeli dan membatasi aktivitas konstruksi dalam beberapa tahun terakhir.
Melihat ke depan, eskalasi terbaru di Timur Tengah serta kebijakan tarif baru dari Presiden Donald Trump makin menegaskan ketidakpastian prospek ekonomi. Walaupun bank sentral AS memilih menahan suku bunga pada hari Rabu, tiga pengambil kebijakan memilih untuk menaikkan biaya pinjaman di tengah inflasi yang masih berada di atas target.
Namun dengan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih terbatas, para ekonom secara umum memperkirakan belanja konsumen akan stabil pada paruh kedua tahun ini. Para eksekutif di perusahaan seperti JPMorgan Chase & Co dan Levi Strauss & Co telah menggarisbawahi ketahanan para pembeli, meskipun beberapa perusahaan seperti PepsiCo Inc dan General Mills Inc mencatat bahwa warga Amerika kini mulai lebih selektif dalam berbelanja.
Harga bensin kembali merangkak naik pada bulan Juli, yang kembali menekan anggaran rumah tangga. Data terbaru juga menunjukkan tingkat tabungan pada bulan Juni merosot ke level terendah sejak 2022.
Para konsumen "mengabaikan tekanan harga dan terus melaju—pertanyaannya adalah berapa lama lagi mereka mampu melakukannya," ujar Pooja Sriram, Senior US Economist di Barclays. "Pengembalian pajak telah habis dan kenaikan pendapatan melambat, sehingga bantalan ekonomi yang kita andalkan tersebut akan makin mengecil pada kuartal berikutnya."
(bbn)






























