Langkah terbaru ini mengindikasikan bahwa QatarEnergy mungkin akan kembali melakukan pengiriman melalui selat tersebut setelah menghentikan sementara perjalanan kapal-kapal LNG-nya ketika kapal pengangkut gas Al Rekayyat diserang pada 7 Juli.
Peningkatan aliran melalui Selat Hormuz juga memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan produksi di pabrik LNG terbesar di dunia—rencana yang ditunda setelah serangan tersebut.
Baik QatarEnergy maupun Seapeak LLC, perusahaan pemilik kapal tanker tersebut, tidak menanggapi permintaan komentar.
Belasan kapal tanker saat ini sedang berlabuh di dekat Ras Laffan, menurut data pelacakan kapal, yang menunjukkan mereka mungkin sedang bersiap untuk mengambil kiriman dari pabrik di Qatar.
Kapal pengangkut LNG kosong milik divisi pelayaran Abu Dhabi National Oil Co juga muncul di Teluk pada Rabu setelah melintasi Selat Hormuz ke arah yang berlawanan, di mana pemancar lokasinya dimatikan.
Namun, dimulainya kembali serangan oleh AS dan Iran semakin memperdalam kekhawatiran bahwa aliran LNG melalui Selat Hormuz akan tetap terganggu, sehingga pasar global tetap ketat.
Serangan sempat berhenti sejenak dalam upaya untuk memajukan pembicaraan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan, tetapi jeda tersebut berakhir pada Selasa malam ketika Iran menembakkan beberapa rudal balistik ke pangkalan Amerika di Yordania. Sebagai tanggapan, AS melancarkan gelombang serangan baru pada Kamis waktu setempat.
(bbn)






























